Klakson Abdul Karim
Kota yang Sempit
Kepadatan itu membuat pandangan kita berjarak pendek, bahkan blur saat hendak menatap sudut-sudut tertentu. Pendapatan pun kian sempit.
Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Kita mendengkur ditengah kota yang padat.
Padat penduduk, padat kendaraan, padat sampah, padat genangan air dimusim hujan, dan padat tempat belanja modern.
Kepadatan itu membuat pandangan kita berjarak pendek, bahkan blur saat hendak menatap sudut-sudut tertentu.
Pendapatan pun kian sempit.
Sementara harga kebutuhan pokok semakin membengkak seperti adonan roti.
Orang-oramg kecil di kota ini harus mampu melakukan penghematan konsumsi.
Mereka seolah dipaksa berhemat.
Bila perlu, mengolah makanan-makanan alternatif.
Sementara kaum berduit saban hari menyisakan makanan.
Makanan yang disantapnya tak seluruhnya jadi tahi.
Sebab sebagiannya menjadi limbah makanan yang terbuang.
Saat menjadi limbah begitu, orang-orang kecil yang bekerja sebagai tukang sampah repot lagi mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir sampah.
Bagi kaum kecil, kehidupannya seakan seluas bak sampah.
Ketika ruang pencarian nafkah semakin sempit dikota besar ini, datanglah bisnis Ojol menawarkan “piring baru”.
Orang-orang kalangan bawah berbondong-bondong bekerja sebagai pengayuhnya.
Bukan hanya laki-laki, saya pernah menemukan pengayuh Ojol seorang perempuan muda bertubuh ceking menarik Ojol.
Ia mampir dipenjual martabak, pinggir jalan sekitar pukul 21.00 wita.
Dibagian depannya, ia menyertakan anak lelakinya yang masih ingusan.
Bocah itu mengantuk, matanya sayup.
Sementara ibunya harus antri dipenjual martabak menunggu pesanannya yang sebenarnya dipesan pelanggannya.
Sungguh sempit ruang nafkah bagi mereka.
Saat saya menunggu motor yang diservis dibengkel pinggir jalan, seorang pengayuh Ojol yang masih muda mampir membawa bekas jirgen oli motor.
Kepada montir bengkel itu, ia meminta oli bekas motor untuk digunakan pada motornya.
Saya terperangah mendengarnya.
Oli bekas yang tak berguna itu dipakai untuk roda dua Ojolnya.
Karena apa? Mungkin untuk penghematan.
Tetapi bagi seorang pensiunan pegawai level bawah yang mengayuh Ojol barangkali bukan untuk penghematan.
Mungkin karena kesempitan dan kekurangan.
Pensiun sebenarnya sinyal tubuh untuk istirahat.
Namun mereka istirahat dari kantor, tapi lanjut bekerja di jalanan.
Begitu sempitnya kota ini, entah berapa ribu orang bekerja di jalanan mencari nafkahnya yang terampas diruang lain.
Malangnya, jalanan besar dikota ini pun terasa sempit lantaran macet.
Sering kita lihat, orang-orang bertengkar dijalan gegara kemacetan.
Betapa sempitnya kota ini.
Setitik sinar matahari pagi nyaris tak ada tempatnya lagi dihunian kita.
Bahkan, seorang rekan bilang; “setanpun tak ada tempatnya lagi di kota ini”, katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)