Klakson Abdul Karim
Politik Ayam
Bedanya dengan ayam kuat tadi adalah mereka punya rasa kenyang. Sementara penguasa kandang politik tak kunjung kenyang.
Hubungannya cair lagi.
Mereka berkonflik kembali saat makanan ditabur oleh tuannya.
Bukankah politik dinegeri ini sarat kompetisi seperti itu pula?
Bukankah kompetisi politik sering mempertengkarkan orang-orang lalu berkoalisi demi “kue yang hendak dimakan?”
Bukankah konflik-sengketa politik sering berlangsung karena soal “kue yang dimakan?” Persis fenomena ayam bukan?
Lalu ayam pada kandang yang sama, makanan-minumannya sama pula.
Namun ukuran berat badannya berbeda.
Mengapa begitu? Selain soal genetik, juga karena kekuatan dan kekuasaan.
Ayam yang kuat biasanya menguasai dominan makanan dan minuman yang disajikan.
Sementara ayam yang lemah, menyingkir dan mengalah.
Mereka makan dan minum setelah ayam yang kuat kenyang.
Ayam yang kuat menjadi penguasa kandang.
Dunia politik begitu pula.
Puak yang kuat akan menjadi penguasa kandang politik.
Selanjutnya mereka akan menguasai banyak hal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)