Opini
Idul Fitri Jalan Tengah Kehidupan
Petunjuk dari Allah ini adalah jalan terbaik bagi manusia untuk tidak berdebat dengan keterbatasannya
Titik tengah pertemuan antara unsur rohani dan jasmani diajarkan pada saat berbuka puasa, di mana manusia dibiasakan untuk menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan oleh Allah, lalu disatukan dengan unsur ruh di dalam dirinya, disertai dengan kesaksian dan pengakuan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah.
Hanya dengan mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala, Tuhan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu, manusia akan berada pada puncak kesaksiannya dan menjadi pengendali dalam menjaga keseimbangan setiap langkah kehidupannya.
Momentum berbuka puasa juga menjadi titik tengah antara dua kutub dinamika kehidupan manusia, yakni pertemuan antara puncak kesabaran dan puncak kesyukuran seorang hamba.
Puncak kesabaran selama sehari penuh dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala mengantarkan hamba pada ketenangan batin dan kebahagiaan tiada tara, manakala ia merasakan kasih sayang Allah yang terungkap dalam Al-Qur'an: sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Di puncak kesabaran itulah manusia merasakan bahwa di balik ketiadaan dan kekosongan materi terdapat kebahagiaan yang luar biasa, yakni keutamaan dan rahmat Allah bagi orang-orang yang sabar menjalankan perintah-Nya.
Berbuka puasa menjadi titik tengah yang mempertemukan puncak kesabaran hamba dengan puncak kesyukuran, yakni ketika ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Di puncak kesyukuran inilah seorang hamba menyadari bahwa seluruh nikmat yang ia rasakan berasal dari Allah. Dengan demikian, manusia hanyalah saksi bahwa Allah adalah pemilik segala-galanya.
Itulah sebabnya syahadat bergema saat manusia berada di titik tengah, ketika ia menemukan dirinya mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah.
Dalam setiap perjalanan ibadah yang menunjukkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, manusia dituntut untuk berdiam diri sejenak guna menemukan petunjuk dan hidayah dari-Nya.
Di bulan Ramadan, manusia berdiam diri dalam i'tikaf untuk merenungi jalan hidupnya yang penuh misteri.
Berdiam diri sejenak adalah upaya menemukan titik keseimbangan yang akan melanggengkan perputaran roda kehidupan.
Akhirnya, Idulfitri menjadi titik tengah yang mempertemukan kesalahan hamba dengan ampunan Allah, serta memberikan pelajaran bahwa kehidupan ini adalah tentang berdzikir dan berpikir.
Dengan itu, manusia menyadari bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tidak sia-sia, melainkan penuh hikmah, keadilan, serta penguatan kesaksian dan pengakuan hamba.
Kedamaian akan langgeng jika manusia mampu mengokohkan tiang kehidupan dengan menciptakan keseimbangan melalui lapisan kasih sayang yang menjaga dan menghindari benturan antarmakhluk.
Jika lapisan kasih sayang menipis, maka seiring waktu akan menghilang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-20-A-Rahman.jpg)