Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhasabah ke Dua Puluh Empat: Menara yang Dibangun dalam Senyap

Muhasabah Ramadan: kisah Fatimah yang membangun masjid dengan kerja keras dan ketulusan.

Tayang:
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Salman Ahmad 

Kita butuh tepuk tangan untuk setiap koin yang kita sedekahkan, sementara Fatimah membangun menara dalam senyap. 

Bahkan ia tak berpikir tentang Namanya. Ia biarkan Namanya terkubur Bersama surat di bawah kasurnya. 

Lailatul qadr barangkali Adalah sebuah momen di mana Tuhan melihat seorang hamba yang meniadakan diri demi sesuatu yang lebih besar dari egonya sendiri. Fatimah telah menghilang.

Ia telah meluluhkan identitasnya sebagai buruh, sebagai orang asing, bahkan sebagai manusia yang butuh istirahat, demi sebuah cinta yang melampaui batas geografis.

Ia membuktikan bahwa untuk membangun menara yang tinggi ke langit, seseorang justru harus merendah sedalam-dalamnya ke bumi. 

“Tanam Dirimu di dalam tanah kehinaan, sebab tak akan tumbuh dengan baik, sesuatu yang tidak pernah ditanam. Demikian pesan Ibn ‘Athaillah as Sakandariy.

Kini, berapa banyak “masjid” batin yang telah kita telantarkan karena terlalu sibuk mendandan citra diri?

Mungkin lailatul qadr tidak sedang mencari mereka yang paling fasih berbicara tentang malam seribu bulan, melainkan mereka yang seperti Fatimah. 

Mampu menjadikan sisa nafasnya sebagai surat cinta yang tulus bagi sang pencipta.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved