Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhasabah ke Dua Puluh Empat: Menara yang Dibangun dalam Senyap

Muhasabah Ramadan: kisah Fatimah yang membangun masjid dengan kerja keras dan ketulusan.

Tayang:
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Salman Ahmad 

Muhasabah ke Dua Puluh Empat

Oleh: Salman Ahmad

TRIBUN-TIMUR.COM - Di sebuah rumah ditanah Arab, Perempuan tua itu bersimpuh di depan majikannya, memohon izin untuk terus menyapu lantai, membersihkan rumah dan mencuci piring, meski tulang-tulangnya sudah mulai terasa rapuh. 

Sang majikan yang melihat tubuh ringkih usia 50an tahun itu tak lagi mampu memikul beban kerja. Ia berniat memulangkannya dengan hormat. 

Namun Fatimah menangis. Ia tetap memohon waktu sedikit lagi. “Beri Saya Kesempatan Tuan. Ada yang belum selesai saya lakukan”, Bisiknya dengan penuh harap. 
Akhirnya sang tuan terpaksa mengurungkan niat untuk memulangkannya. 

Setelah kira-kira waktu yang diharap oleh Fatimah terpenuhi, ia pun dipanggil menghadap kepada Sang Khaliq. 

Dibalik Kasur Fatimah, sang tuan menemukan sebuah surat. Itu bukan wasiat harta untuk ahli warisnya. Ia hanya sebuah surat ungkapan terima kasih kepada tuannya.

Alasan ia memohon agar tidak diberhentikan Adalah karena sebuah masjid yang ia bangun di kampung halamannya yang belum rampung. Ia takut jika berhenti bekerja sebelum atap itu tegak, rumah tuhan itu akan terbengkalai. 

Fatimah hanyalah seorang buruh migran yang menghabiskan sisa tenaganya untuk upah yang mungkin tidak banyak. Namun ia memiliki cita-cita besar, proyek transaksi raksasa dengan langit.

Ia tidak sedang menabung untuk hari tua; ia sedang membangun sebuah peradaban kecil di tanah kelahirannya. Sebuah menara yang yang tumbuh bukan dari semen dan batu semata, melainkan dari tetesan keringat yang ia sembunyikan dalam do’a-do’a malamnya yang sepi. 

Di malam ke 24 ini, kisah yang diungkap oleh Syekh Ratib An-Nabulsiy seyogyanya menjadi cermin.

Kita yang sering meributkan hakikat lailatul qadr dengan diskusi-diskusi teologis yang Panjang, atau mereka yang merasa telah “sampai” hanya karena mampu berlama-lama di dalam masjid yang nyaman, tiba-tiba tampak begitu kerdil. 

Kita datang ke hadapan Tuhan membawa segunung teori tentang keihklasan, sementara Fatimah membawa buktinya tanpa satu pun kata-kata.

Kita sibuk mencitrakan diri sebagai pencari Tuhan, sementara Fatimah telah "ditemukan" oleh Tuhan dalam ketulusan yang tanpa saksi. 

Betapa kecilnya kita dihadapan Perempuan itu. Kita yang sering mengeluh akan lelahnya ibadah, sementara ia menjadikan kelelahan kerjanya sebagai bentuk ibadah yang paling murni.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved