Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mencari Lailatul Qadr atau Melupakan Al-Qur’an?

Orang-orang yang sebelumnya jarang terlihat dalam salat berjamaah tiba-tiba hadir dengan semangat luar biasa.

Editor: Sudirman
Istimewa
La Ode Ismail Ahmad Petugas Haji / Dosen IAIN 

Cara pandang seperti ini secara tidak langsung melahirkan paradoks spiritual. Di satu sisi, kita sangat antusias memburu satu malam yang nilainya setara seribu bulan.

Di sisi lain, kita sering lalai menghidupkan sebelas bulan kehidupan yang nyata dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Padahal jika kita kembali kepada dalil utama tentang adanya Lailatul Qadr yakni Surah Al-Qadr, kemuliaan malam itu dijelaskan dengan sangat jelas sejak ayat pertama: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pusat kemuliaan malam tersebut bukanlah aktivitas ibadah manusia, melainkan peristiwa turunnya Al-Qur’an.

Dengan kata lain, malam itu menjadi mulia karena pada saat itulah wahyu Ilahi hadir ke dalam sejarah manusia. Artinya, kemuliaan Lailatul Qadr pada dasarnya berakar pada kehadiran Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Jika demikian, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan sekadar: malam mana yang merupakan Lailatul Qadr? Tetapi justru: seberapa jauh kita hidup bersama Al-Qur’an yang diturunkan pada malam itu?

Ironisnya, di tengah semangat mencari Lailatul Qadr, Al-Qur’an sering kali justru kehilangan posisinya sebagai pusat kehidupan spiritual umat.

Mushaf dibaca secara intens pada malam-malam tertentu, tetapi pesan moralnya jarang benar-benar mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara memperlakukan sesama manusia.

Inilah paradoks yang perlu kita renungkan secara jujur. Kita ingin mendapatkan pahala dari malam turunnya Al-Qur’an, tetapi tidak selalu siap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Padahal dalam logika spiritual yang lebih mendalam, kemuliaan malam itu bukan sekadar karena waktunya, melainkan karena dialog antara langit dan bumi yang terjadi melalui wahyu.

Allah berbicara kepada manusia melalui firman-Nya, dan manusia diharapkan menjawab panggilan itu dengan kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam perspektif ini, i‘tikaf sebenarnya bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana. Ia adalah latihan untuk memutus sementara keterikatan dengan rutinitas dunia agar manusia memiliki ruang batin untuk kembali mendengar suara wahyu.

Namun ketika i‘tikaf berubah menjadi sekadar ritual tahunan yang berakhir tanpa perubahan cara hidup, maka esensi spiritualnya menjadi sangat dangkal.

Ia hanya menjadi pengalaman religius sesaat yang tidak meninggalkan jejak dalam kehidupan setelah Ramadan.

Lebih jauh lagi, pemahaman yang terlalu berorientasi pada “malam seribu bulan” berpotensi melahirkan mentalitas religius yang transaksional.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved