Opini
Mencari Lailatul Qadr atau Melupakan Al-Qur’an?
Orang-orang yang sebelumnya jarang terlihat dalam salat berjamaah tiba-tiba hadir dengan semangat luar biasa.
Ibadah dipandang sebagai cara tercepat untuk mengumpulkan pahala dalam jumlah besar, bukan sebagai proses panjang membentuk kedekatan dengan Tuhan dan integritas moral dalam kehidupan.
Padahal pesan besar Al-Qur’an justru mengarah pada transformasi kehidupan yang berkelanjutan: keadilan sosial, kejujuran, kepedulian terhadap yang lemah, serta kesadaran akan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Jika Al-Qur’an benar-benar dipahami sebagai pusat kemuliaan Lailatul Qadr, maka logika spiritualnya menjadi sangat berbeda.
Kemuliaan itu tidak hanya terbuka pada satu malam yang tersembunyi, tetapi dapat diraih oleh siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupannya.
Membaca Al-Qur’an dengan kesadaran. Merenungkan maknanya. Membiarkan ayat-ayatnya menegur keserakahan, kesombongan, dan ketidakadilan dalam diri kita. Di situlah sebenarnya pintu kemuliaan itu terbuka.
Dengan demikian, kritik terhadap praktik pencarian Lailatul Qadr bukanlah penolakan terhadap i‘tikaf atau ibadah malam Ramadan.
Kritik ini justru ingin mengembalikan orientasi spiritual umat kepada inti pesan yang lebih mendasar: Lailatul Qadr adalah momentum turunnya Al-Qur’an, bukan sekadar momentum perburuan pahala.
Jika umat Islam benar-benar ingin meraih kemuliaan yang dijanjikan oleh malam tersebut, maka jalan yang paling masuk akal bukan hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga menghidupkan Al-Qur’an dalam sebelas bulan kehidupan setelahnya.
Karena pada akhirnya, kemuliaan tidak hanya ditemukan pada satu malam yang misterius. Kemuliaan hadir ketika manusia mampu menjadikan firman Tuhan sebagai cahaya yang menerangi seluruh perjalanan hidupnya.(*)
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
| Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/La-Ode-Ismail-Ahmad-Petugas-Haji-Dosen-IAIN-23.jpg)