Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tekanan Psikologis di Balik Megahnya CPI

Center Point of Indonesia adalah kawasan kota modern yang lahir dari proses reklamasi, sekaligus menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Adam Mubarak Mahasiswa Program Stusi Psikoogi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta 

Kepercayaan terhadap pemerintah merosot tajam, memunculkan protes langsung kepada pemangku kebijakan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulsel dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar bahkan menempuh jalur hukum ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar pada awal 2016, menggugat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan PT Yasmin Bumi Asri atas prosedur reklamasi yang dianggap bermasalah. 

Namun, gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima oleh pengadilan karena dianggap telah melampaui batas waktu. Keputusan ini menuai kritik luas karena dianggap mengabaikan rasa keadilan masyarakat dan hak mereka untuk mengawasi dampak reklamasi.

Kemajuan untuk Siapa?

Center Point of Indonesia memang hadir sebagai simbol kemajuan yang membanggakan, kawasan modern yang mempertegas posisi Makassar sebagai kota berkembang di Indonesia Timur.

Namun, kemajuan itu tidak datang tanpa harga. Ia dibayar oleh masyarakat pesisir yang kehilangan rumah, mata pencaharian, kesehatan, bahkan harapan akan masa depan yang layak bagi anak-anak mereka.

Pembangunan yang berorientasi pada kemajuan fisik dan estetika kota memang sah dan perlu.

Namun, ia harus diimbangi dengan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap keberlanjutan sosial dan kesejahteraan masyarakat lokal yang terdampak.

Setidaknya, ada keseimbangan antara warga yang terdampak dengan pemangku kepentingan dibalik proyek ini mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga psikologis warga sekitarnya. 

Kemajuan selayaknya diukur dari peningkatan kualitas hidup masyarakatnya secara komperhensif. Bukan mengarah pada pembangunan yang mengorbankan kebutuhan dasar masyarakatnya.

Jika indicator kebahagiaan dan akses dasar warga local menurun, maka jelas hal ini merupakan kemunduran kemanusiaan, yang terjadi dibalik kemegahan fisik kota kebanggannya.

Kemajuan sejati tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau indahnya lanskap perkotaan, tetapi juga dari kemampuan pembangunan itu sendiri dalam menjaga martabat, penghidupan, dan kesehatan psikologis seluruh warganya, termasuk mereka yang tinggal jauh dari sorotan lampu gemerlap CPI.

Karena pada akhirnya, sebuah kota yang benar-benar maju adalah kota yang tidak membiarkan seorang pun tertinggal di balik bayang-bayang kemegahannya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved