Opini
Tekanan Psikologis di Balik Megahnya CPI
Center Point of Indonesia adalah kawasan kota modern yang lahir dari proses reklamasi, sekaligus menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Oleh: Adam Mubarak
Mahasiswa Program Stusi Psikoogi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketika seseorang bertanya tentang tempat yang wajib dikunjungi di Kota Makassar, sebagian besar warga lokal akan serentak menyebut satu nama: CPI.
Center Point of Indonesia adalah kawasan kota modern yang lahir dari proses reklamasi, sekaligus menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Kawasan ini tidak sekadar menawarkan pemandangan indah dan desain kota yang memukau, tetapi juga menyediakan fasilitas bertaraf tinggi—mulai dari apartemen mewah hingga rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat kesehatan internasional untuk wilayah Indonesia Timur.
Kini, CPI telah menjelma menjadi destinasi wisata urban yang memikat. Berbagai pilihan aktivitas tersedia bagi pengunjung: berburu sudut foto yang estetik, menikmati senja di tepi laut, berolahraga, berwisata religi ke Masjid 99 Kubah, hingga menghabiskan waktu di deretan kafe yang berjajar di kawasan reklamasi tersebut.
Tidak mengherankan jika kawasan ini terus menjadi magnet kunjungan warga dari berbagai penjuru.
Namun, di balik kemewahan yang menjadi daya tarik utamanya, ada sisi lain yang tidak boleh kita abaikan. Perlu kiranya kita melihat lebih jauh ke belakang, menelisik dampak reklamasi CPI yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sekitar empat belas tahun silam.
Ambisi besar itu ternyata menyisakan luka yang cukup dalam bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah pesisir.
Penggusuran dan Kehilangan
Sejak aktivitas penimbunan lahan dimulai, warga di kawasan Mariso dan Tamalate mulai kehilangan tempat tinggal mereka. Salah satu di antaranya adalah Daeng Bollo, seorang warga yang terpaksa angkat kaki dari tempat tinggalnya pada 2014.
Ia bukan satu-satunya, setidaknya 31 keluarga di sekitar kecamatan tersebut terdampak langsung oleh penggusuran ini.
Lebih dari sekadar kehilangan tempat tinggal, reklamasi juga merampas ruang tangkap ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan para nelayan.
Tanpa pilihan lain, sebagian dari mereka terpaksa beralih menjadi pemulung atau merantau sebagai buruh kasar demi bisa bertahan hidup. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi semata, ini adalah persoalan identitas dan martabat.
Kondisi tersebut terkonfirmasi dalam sejumlah penelitian tentang dampak sosial-ekonomi reklamasi CPI seluas 12 hektare ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-05-Adam-Mubarak.jpg)