Opini
Tekanan Psikologis di Balik Megahnya CPI
Center Point of Indonesia adalah kawasan kota modern yang lahir dari proses reklamasi, sekaligus menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Salah satu temuan yang paling mencolok adalah munculnya kesenjangan finansial yang paradoksal. Secara logis, individu yang tinggal di sekitar kawasan berpendapatan tinggi seharusnya turut merasakan imbas positifnya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, pendapatan keluarga pesisir malah mengalami penurunan, seiring semakin jauhnya akses mereka ke habitat ikan sebagai sumber mata pencaharian utama.
Penurunan ekonomi ini membawa dampak berantai yang menyedihkan. Kemampuan keluarga dalam membiayai kebutuhan dasar dan layanan kesehatan ikut merosot.
Yang lebih memprihatinkan, krisis ini turut merampas masa depan anak-anak mereka yang terpaksa putus sekolah karena terdesak oleh himpitan ekonomi.
Tekanan Psikologis yang Tersembunyi
Dampak ekonomi yang berkepanjangan tidak berhenti pada urusan materi. Ia merembet jauh ke dalam kesehatan mental masyarakat pesisir yang terdampak.
Perasaan tidak berdaya menghadapi perubahan lingkungan yang massif, yang dalam kajian ilmiah dikenal sebagai ecological grief atau kelumpuhan ekologi, mulai menghinggapi keseharian mereka.
Sejumlah jurnal ilmiah menegaskan bahwa perubahan lingkungan akibat proyek pembangunan besar dapat memicu beragam gejala psikologis, mulai dari kecemasan, stres, hingga rasa tidak aman secara emosional.
Temuan serupa diperoleh dari penelitian di Filipina, di mana pasca bencana banjir dan tanah longsor akibat angin topan, ditemukan peningkatan signifikan pada rasa takut sebesar 53 persen dan kecemasan sebesar 41 persen. Di Kepulauan Solomon, 98 persen partisipan mengaku merasa khawatir akibat naiknya permukaan air laut.
Meskipun konteks geografisnya berbeda, pola yang muncul serupa: ketika lingkungan tempat tinggal seseorang berubah secara drastis akibat kekuatan di luar kendalinya, dampak psikologisnya nyata dan tidak bisa diabaikan.
Teori Conservation of Resources (COR) memberikan kerangka yang tepat untuk memahami fenomena ini.
Menurut teori tersebut, tekanan psikologis yang dialami masyarakat pesisir tidak semata-mata dipicu oleh kondisi alam, melainkan juga oleh hilangnya berbagai sumber daya yang sangat berarti bagi kehidupan mereka.
Semakin jauhnya jarak ke lokasi penangkapan ikan berarti hilangnya mata pencaharian, yang secara langsung memicu perasaan tidak berdaya dan stres ekonomi yang mendalam.
Ditambah lagi dengan hilangnya tempat tinggal, akses air bersih, dan ketahanan pangan, semua itu menciptakan rasa tidak aman yang berlapis dan sulit untuk pulih.
Respons yang kemudian muncul dari masyarakat pesisir sekitar CPI pun cenderung bersifat maladaptif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-05-Adam-Mubarak.jpg)