Opini Ahmad Arfah
Ramadan Bulan Aktivasi Literasi
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan diri dari kemalasan intelektual.
Oleh: Ahmad Arfah, S.S, M.Hum
Sulolipu Institute dan Ka Perpustakaan MAN 1 Kota Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Ramadan diidentikkan oleh sebagian orang dengan ibadah khas seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan berbuka puasa bersama.
Namun tersimpan potensi besar yang kadang luput dari perhatian, Ramadan sejatinya adalah bulan yang paling kondusif untuk menghidupkan budaya literasi.
Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra', (bacalah !). Wahyu perdana ini turun di bulan Ramadan.
Merupakan isyarat mendalam, membaca, berpikir, dan mencari ilmu adalah salah satu inti dari spiritualitas Islam itu sendiri.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan diri dari kemalasan intelektual.
Terdapat dua poin di dalam ayat Al-Qur’an yang turun paling awal itu, Al-Alaq 1-5.
Selain iqra’ yakni perintah untuk membaca, yang kedua adalah 'qalam', yang berarti umat Islam diperintah untuk menulis.
Dengan begitu, mendorong Ramadan sebagai bulan aktivasi literasi, berdasar wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Perintah ini bukan hanya ajakan membaca Al-Qur'an, melainkan sebuah manifesto peradaban.
Yang menempatkan aktivitas intelektual, membaca, memahami, merefleksi, dan mengaplikasikan ilmu.
Iqra’ (bacalah!), tidak diartikan sekadar membaca teks, melainkan membaca secara kritis, memahami konteks, dan menyaring makna.
Perintah ini turun di bulan Ramadan, menjadi deklarasi Islam bahwa literasi adalah fondasi peradaban.
Secara teologis, ada sejumlah alasan kuat untuk menyebut Ramadan sebagai bulan literasi.
Al-Qur'an yang diturunkan pada bulan ini, peristiwa yang disebut sebagai Nuzulul Qur'an.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-07-Ahmad-Arfah-SS-MHum.jpg)