Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Risiko Global di Balik Dentuman Rudal di Timur Tengah

Setelah hampir dua bulan saling kirim ancaman, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya benar-benar bergerak.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Yusran Pendidik SMA Islam Athirah Makassar 

Oleh: Yusran

Pendidik SMA Islam Athirah Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kalau kita mengikuti perkembangan terakhir di Timur Tengah, rasanya seperti menonton bara yang lama dipendam, lalu tiba-tiba disiram bensin.

Setelah hampir dua bulan saling kirim ancaman, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya benar-benar bergerak.

Awalnya ancaman itu terdengar seperti retorika biasa. Tapi Sabtu, 28 Februari 2026, keadaan berubah. Amerika bersama Israel menggempur Teheran dan sejumlah kota lain. Dunia terkejut, tapi juga seperti sudah menduga: ini tinggal soal waktu.

Serangan itu disebut sebagai operasi besar. Beberapa media di Amerika menyebut koordinasi antara Washington dan Tel Aviv memang sudah disiapkan.

Bahkan ada laporan bahwa Amerika lebih nyaman jika Israel yang “membuka pintu” lebih dulu, seperti yang pernah terjadi pada pertengahan 2025 saat keduanya menyerang Iran selama hampir dua minggu.

Kali ini skalanya lebih dalam, lebih simbolik, bahkan disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kalau kabar itu benar, ini bukan sekadar serangan militer. Ini pukulan politik dan psikologis.

Iran tentu tak tinggal diam. Serangan balasan diarahkan ke pangkalan militer Amerika di beberapa titik Timur Tengah. Situasi langsung mencekam. Negara-negara di kawasan siaga.

Harga minyak merangkak naik bahkan sebelum peluru terakhir ditembakkan. Semua orang paham, perang di kawasan itu tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menyeret ekonomi dunia sebagai sandera.

Banyak yang melihat konflik ini semata soal nuklir atau perseteruan ideologis. Padahal ada satu faktor yang sering luput dibahas secara jernih: geografi.

Iran bukan cuma negara besar dengan sejarah panjang. Ia duduk di titik yang sangat sensitif, diapit Teluk Persia dan Laut Oman.

Di sanalah ada Selat Hormuz jalur laut sempit yang menjadi urat nadi energi dunia.

Selat itu lebarnya tak seberapa, sekitar 21 mil di titik tersempit. Tapi hampir seperlima sampai sepertiga pasokan minyak dunia melintas di sana setiap hari. Sekitar 20 juta barel.

Ditambah gas alam cair yang menyuplai Eropa. Kita mungkin jauh dari sana, duduk santai isi bensin di SPBU, tapi bahan bakar mobil, pesawat, bahkan listrik industri banyak yang bergantung pada jalur itu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved