Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Risiko Global di Balik Dentuman Rudal di Timur Tengah

Setelah hampir dua bulan saling kirim ancaman, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya benar-benar bergerak.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Yusran Pendidik SMA Islam Athirah Makassar 

Jadi ketika Iran memberi sinyal bisa saja menutup atau mengganggu lalu lintas di Hormuz, itu bukan gertakan kosong.

Sejarah sudah pernah memberi contoh. Pada era 1980-an, saat Iran dan Irak terlibat perang panjang, terjadi apa yang dikenal sebagai “Perang Tanker”. Kapal-kapal pengangkut minyak diserang.

 Harga minyak melonjak tajam. Lalu pada 2019, serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi juga bikin pasar panik dalam hitungan jam.

Artinya, pasar energi itu sensitif sekali. Tak perlu perang total, cukup gangguan terbatas saja, harga langsung bergejolak.

Belum lagi soal Bab el-Mandeb, jalur sempit lain yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.

Dari situ kapal menuju Terusan Suez, pintu penting perdagangan antara Asia dan Eropa. Sekitar 12 persen perdagangan global lewat sana.

Kalau jalur ini terganggu, kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika. Tambah waktu, tambah biaya, harga barang ikut naik.

Kita pernah melihat dampaknya saat gangguan keamanan di kawasan itu membuat banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute. Biaya logistik membengkak, rantai pasok terguncang.

Dengan posisi seperti itu, Iran sebenarnya punya “daya tawar” strategis tanpa harus meledakkan satu pun bom nuklir.

Ia cukup mengancam stabilitas jalur energi dan perdagangan. Dunia akan mendengar.

Maka ketika Amerika dan Israel memutuskan menyerang, pertanyaannya bukan cuma soal benar atau salah secara politik. Tapi juga: sudahkah dihitung efek dominonya?

Bagi Indonesia, ini bukan tontonan jauh di layar kaca. Kita negara pengimpor minyak. Kalau harga minyak dunia melonjak, subsidi BBM dan listrik bisa membengkak.

Pemerintah mungkin harus mengalihkan anggaran dari pembangunan ke bantalan sosial. Rupiah juga bisa tertekan.

Angka Rp17.000 per dolar bukan sesuatu yang mustahil kalau kepanikan pasar global tak terkendali. Dampaknya? Harga bahan baku naik, inflasi merambat, daya beli masyarakat tergerus.

Ada juga sisi keamanan. Ketegangan di Timur Tengah kerap memantik sentimen ideologis sampai ke Asia Tenggara.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved