Opini
Risiko Global di Balik Dentuman Rudal di Timur Tengah
Setelah hampir dua bulan saling kirim ancaman, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya benar-benar bergerak.
Narasi anti-Barat atau solidaritas sektarian bisa dimanfaatkan kelompok tertentu. Kita tak boleh naif. Dunia sekarang saling terhubung, bukan cuma lewat perdagangan, tapi juga lewat ide dan propaganda digital.
Karena itu, menurut saya, respons Indonesia tak bisa reaktif. Kita perlu memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri, terutama di sektor energi.
Ketergantungan pada impor harus dikurangi pelan-pelan. Energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar wacana hijau, tapi kebutuhan strategis.
Diplomasi juga penting. Indonesia punya tradisi politik luar negeri bebas aktif. Suara untuk meredakan konflik, sekecil apa pun, tetap berarti.
Perang Amerika–Israel melawan Iran, kalau terus membesar, bukan cuma soal siapa menang siapa kalah. Ini soal stabilitas global.
Soal harga beras, harga tiket pesawat, sampai lapangan kerja di negara-negara yang bahkan tak pernah mengirim satu pun tentara ke Timur Tengah.
Kadang yang paling menderita justru mereka yang tak punya andil apa-apa dalam keputusan perang.
Dan di situlah letak ironi terbesar konflik ini. Negara-negara besar saling unjuk kekuatan, sementara dunia menahan napas, berharap jalur sempit bernama Hormuz dan Bab el-Mandeb tetap terbuka.
Karena kalau keduanya benar-benar tersumbat, yang tersedak bukan cuma kapal tanker, tapi ekonomi global termasuk Indonesia.
| Badik Bukan Kekerasan: Analisis Kritis terhadap Penyalahpahaman Nilai Siri’ dalam Praktik Sosial |
|
|---|
| Ambisi Motor Listrik MBG: Pendidikan Tersendat, Kebijakan Kehilangan Arah |
|
|---|
| Menolak Proyek Pengolahan Sampah di Parangloe, Tamalanrea |
|
|---|
| Obat Setelan: Sembuh Cepat, Risiko Panjang |
|
|---|
| Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-02-Yusran.jpg)