Opini
GP Ansor Digdaya Gerbong Raksasa NU Melaju Tanpa Rekayasa
Agenda utama memilih ketua baru melanjutkan kepemimpinan ketua lama Rusdi Idrus untuk lima tahun ke depan, periode 2026-2031.
GP Ansor memiliki tugas utama mengawal para kiai/ulama sebagaimana kaum Ansor di Madinah menjadi pengawal Nabi SAW.
Para sahabat bersama Nabi SAW ketika itu berhijrah hampir dengan tangan kosong, kaum Ansor berperan dalam menyediakan tempat penampungan para Muhajirin dan menyediakan segala fasilitas dan sarana prasarana bagi Nabi SAW guna pembinaan umat.
Sekarang ini, GP Ansor selain pengawal para ulama sebagai pewaris Nabi SAW, juga berperan sebagai pelayan para kiai dalam kegiatan pembinaan umat.
Perilaku dan semangat perjuangan GP Ansor sebagaimana kaum Ansor di masa Nabi SAW disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai generasi penyelamat, generasi penolong dan generasi pelanjut seperti dalam ayat Nahnu Anshorullah (kami generasi pelanjut agama Allah) dan Kunu Anshorullah (jadilah kalian penyelamat agama Allah).
Oleh karena itu, GP Ansor merupakan pemuda pilihan yang harus relah dipilih untuk mengorbakan dirinya demi agama dan bangsa, NKRI, sesuai khittahnya, hubbul wathan minal iman, cinta terhadap tanah air, bangsa dan negara bagian dari iman.
GP Ansor Gerbong Raksasa
GP Ansor gerbong terdepan dalam perjuangan NU, yang sejak tahun 1924 bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), kemudian berubah nama Ahlul Wathan (Pemuda Negeri) bersamaan lahirnya NU tanggal 31 Januari 1926 dan menjadi ourderdon NU tahun 1931.
Selanjutnya menjadi Persatuan Pemuda Nahdlatoel Oelama (PPNO) di awal tahun 1934, dan Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) pada 24 April 1934 bertepatan 10 Muharram 1353 H.
Tanggal dan tahun tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya GP Ansor sesuai hasil Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, 21-26 April 1934.
GP Ansor dalam titah sejarahnya menjadi gerbong utama bangsa dalam melawan penjajah Belanda, dan menjadi gerbong kuat dalam memenangkan NU ketika menjadi partai politik, serta menjadi gerbong pamungkas dalam menumpas PKI di tahun 1965.
Sampai saat ini, gerbong GP Ansor semakin besar dan panjang memiliki jaringan terluas sampai ke tingkat desa, dusun dan pedalaman terpencil di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
NU Online melansir database dari survei Lembaga Survei Indonesia bahwa pada tahun 2024 sejumlah 56,9 persen adalah nahdliyin.
Jadi jika diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa, berarti sekitar 159 juta warga NU dan 32 juta diantaranya adalah kader GP Ansor.
Khusus di Sulawesi Selatan, kader GP Ansor untuk periode ketua almarhum H. Muhammad Tonang sejak bulan Juli tahun 2012 berjumlah 13.000-an.
Periode sebelumnya saat H. Azhar Arsyad ketua, berjumlah 6.000-an, praktis kader GP Ansor di wilayah ini sampai berakhirnya kepemimpinan Tonang mendekati angka 20.000-an kader.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)