Opini
GP Ansor Digdaya Gerbong Raksasa NU Melaju Tanpa Rekayasa
Agenda utama memilih ketua baru melanjutkan kepemimpinan ketua lama Rusdi Idrus untuk lima tahun ke depan, periode 2026-2031.
Oleh: Machmud Suyuti
Pengurus PW GP Ansor Sulsel (2008-2012)
TRIBUN-TIMUR.COM - SEKRETARIS Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel tahun 2013-2017 dan 2017-2021; Wakil Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel tahun 2021-2025 dan saat ini sebagai Ketua Steering Committee Konferwil XVI GP Ansor Sulsel tahun 2026.
Insya Allah besok dan lusa (Sabtu-Ahad/14-15/2) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Sulawesi Selatan menggelar Konferensi Wilayah XVI tahun 2026 (konferwil XVI-2026) di Asrama Haji Sudiang Makassar.
Agenda utama memilih ketua baru melanjutkan kepemimpinan ketua lama Rusdi Idrus untuk lima tahun ke depan, periode 2026-2031.
Konferwil GP Ansor sebagai forum tertinggi tingkat wilayah menjadi ajang demokratisasi yang selain fokus untuk memilih pimpinan puncak tingkat provinsi, juga dijadikan sebagai forum perumusan program kerja organisasi dan rekomendasi strategis penguatan kaderisasi di kalangan pemuda NU, Nahdlatul Ulama.
Ketua panitia Muhammad Alim Irfandi memastikan agenda konferwil akan berjalan lancar dan sukses tanpa kendala.
Irfandi telah menyiapkan seluruh perangkat kegiatan mulai dari segi administrasi, akomodasi hingga pengamanan dan protokoler yang melibatkan sahabat Banser.
Undangan untuk kegiatan konferwil telah rampung dan beredar seminggu sebelum pelaksanaan.
Antara lain yang diundang dan dipastikan hadir menurut Irfandi adalah Bapak Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman sekaligus membuka konferwil secara resmi.
Pengurus pusat yang dijadwalkan hadir tiga orang, sejumlah kiai sepuh dan pimpinan pondok pesantren juga telah dikonfirmasi kehadirannya dan pengurus PC GP Ansor se-Sulsel diperkirakan 30.000-an kader tumpah memadati Asrama Haji Sudiang mulai hari ini jumat, 13/02.
Khusus PC GP Ansor se-Sulsel, mereka hadir di arena konferwil untuk mengikuti rangkaian acara sidang-sidang pleno, sidang komisi, sidang perumusan rekomendasi gerak Ansor ke depan dan yang terpenting adalah sidang pemilihan ketua untuk menentukan siapa yang berhak dan sah memimpin ormas pemuda NU ini masa khidmat lima tahun kedepan.
Pemimpin GP Ansor ke depan haruslah kader militant yang memiliki kemampuan berkompetitif digdaya di level struktural dan berkomitmen untuk pemberdayaan kader di level kultural.
Digdaya yang dimaksud disini bukan dalam konteks digitalisasi tetapi bermakna sakti, memiliki kekuatan dalam berkompetitif dan tidak terkalahkan.
Kedigdayaan pemuda NU antara lain dapat dilihat dari mekanisme pemilihan ketua GP Ansor yang tidak direkayasa, calon ketua harus dipilih berdasarkan kompetensi dan integritas, bukan karena titipan senior, bukan pula karena direkayasa untuk kepentingan tertentu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)