Opini
GP Ansor Digdaya Gerbong Raksasa NU Melaju Tanpa Rekayasa
Agenda utama memilih ketua baru melanjutkan kepemimpinan ketua lama Rusdi Idrus untuk lima tahun ke depan, periode 2026-2031.
Ketua GP Ansor mendatang harus mampu membawa gerbon terdepan dalam perjuangan NU.
GP Ansor di NU merupakan gerbong kereta api raksasa yang memiliki kamar berisi kader militant.
Setiap kamar berisi ruang lokomotif. Ada kamar pimpinan, mulai dari tingkat pusat sampai pimpinan ranting di tingkat desa/kelurahan.
Ada kamar untuk Barisan Serbaguna (Banser), Barisan Ansor Tanggap Bencana Alam (Bagana), Pemadam Tanggap Kebarakan (Petaka), Densus 99 Asmaul Husna, Rijalul Ansor, dan Majelis Zikir Ansor.
Kader Digdaya dan Berdaya Karya
Konferwil XVI-2026 GP Ansor Sulsel kali ini mengusung tema “Ansor Digdaya, Menuju Kedaulatan Pangan”.
Tema tersebut mencerminkan arah gerak Ansor ke depan yang tidak saja fokus pada penguatan keagamaan dan kebangsaan tetapi pemberdayaan kader untuk kesejahteraan ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan, sosial dan kemasyarakatan.
Dalam kaitan itulah maka secara terstruktur dan terukur GP Ansor harus memiliki karya nyata yang berdaya guna.
Output dari kader Ansor berdigdaya yang diharapkan muncul sebagai kandidat pada forum konferwil ini adalah aktivitas muda NU berketerampilan dan memiliki jiwa kewirausahaan, memiliki relasi kuat dengan pihak penentu kebijakan, mampu dan siap bersaing di tengah arus perubahan masa depan yang serba kompleks.
Ketua terpilih GP Ansor mendatang sejatinya bukan hanya yang mampu menjamin keberlangsungan estafet kepemimpinan tetapi mampu meningkatkan kapasitas dan posisi tawar kaum muda NU dalam melegitimasi kekuatan jamiyah.
Selain itu, kriteria utama bagi pemimpin GP Ansor ke depan adalah yang mapan dalam berorganisasi, mapan dalam doktrin Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja), memiliki kecakapan analitik intelektual dibuktikan dengan kemampuan berdiskusi, berpolemik dan berdialog secara lisan maupun tulisan, memiliki kompetensi profesional berdaya karya.
Calon/kandidat Ketua GP Ansor yang memenuhi kriteria digdaya adalah benar-benar kader yang bersyarat.
Pernah mengikuti minimal Pendidikan Kader Nasional (PKN) Pimpinan Pusat GP Ansor, pernah atau sedang menjadi Pengurus GP Ansor tingkat PP/PW/PC sekurang-kurangnya tiga tahun, pernah menjadi aktivis NU minimal menjadi pengurus salah satu Banom, lembaga dan Lajnah di lingkungan ormas Islam terbesar dan tertua di Indonesia ini.
Syarat lain yang merupakan kriteria khusus, adalah maksimal berusia empat puluh lima tahun dan bukan saja mengantongi rekomendasi dari pimpinan cabang sebagai pemilih sah tetapi yang terpenting adalah mendapat restu dari ulama sepuh NU sehingga kandidat ketua GP Ansor yang dipilih mendapat garansi dari kiai.
Ini penting, agar ketua terpilih mendatang membawa nama kiai dan menjaga marwah kiai. Konsekuensinya, mencoreng nama baik kiai merupakan dosa besar bagi kader GP Ansor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)