Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Anak-anak dan Perceraian

Mempunyai orangtua yang gila kerja serta jika pulang, hanya suara pertengkaran yang didengar. 

Editor: Ansar
abdul qayyum/tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Silvika Rezkyana, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Salah satu anggota Forum Lingkar Pena (FLP). Memiliki minat dalam dunia kepenulisan dan literasi. 

Dengan adanya pendengar yang baik, kebiasaan anak yang suka memendam segala sesuatu sendiri akan berkurang. 

Emosinya pun bisa terlampiaskan dengan benar.

Selain itu, kekayaan juga tak serta membuat anak broken home merasa lebih baik.

Mempunyai orangtua yang gila kerja serta jika pulang, hanya suara pertengkaran yang didengar. 

Bukan pelukan rindu atau ciuman penuh kasih sayang. 

Secara finansial memang serba cukup, akan tetapi hilangnya kehangatan dalam keluarga membuatnya terasa hambar.

Kehadiran fisik orangtua tidak selalu mencerminkan kehadiran secara emosional.

Yang anak harapkan, biarpun serba kekurangan asal kehangatan keluarga itu tetap ada akan sangat membahagiakan, daripada serba bercukupan tetapi semuanya terasa asing karena tak ada lagi canda dan tawa di dalam rumah. 

Rumah bukan lagi menjadi tempat pulang, anak merasa rumah telah menjadi neraka.

Maka dari itu, anak broken home memang tidak beruntung mengenai keluarga bukan berarti hidup dan mimpinya juga hancur. 

Walaupun memiliki keluarga yang tidak utuh, hal itu tidak menghalangi anak untuk meraih mimpinya. 

Banyak anak broken home yang memiliki prestasi, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa membanggakan.

Kurangnya dukungan yang menjadi faktor utama anak broken home menyimpang ke hal-hal negatif. 

Oleh karena itu, anak broken home lebih membutuhkan dukungan daripada stigma yang melekat di diri mereka. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved