Opini
Anak-anak dan Perceraian
Mempunyai orangtua yang gila kerja serta jika pulang, hanya suara pertengkaran yang didengar.
Oleh: Silvika Rezkyana Mahasiswa Universitas Negeri Makassar
Menjadi utuh lagi adalah impian mereka yang broken home.
Itulah penggambaran keluarga anak broken home yang berantakan karena adanya suatu masalah, seperti pertengkaran kedua orang tua yang berujung perceraian.
Hal ini sangat mempengaruhi mental anak.
Sang anak akan berpikir bahwa mereka sudah tidak disayang lagi, pendapatnya tak lagi didengar, atau bahkan timbul rasa benci pada kedua orangtuanya.
Fenomena kerusakan rumah tangga berkaitan erat dengan situasi sosial saat ini.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama RI dan Mahkamah Agung (2025) mencatat terjadinya penurunan angka pernikahan pada tahun 2024 menjadi 1.478.424 dibanding tahun sebelumnya, sementara angka perceraian meningkat menjadi 446.359 kasus perceraian.
Data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan bahwa faktor utama penyebab meningkatnya kasus perceraian di Indonesia yaitu terjadinya pertengkaran pasangan secara terus menerus, masalah ekonomi, judi, zina, meninggalkan salah satu pihak dan sebagainya.
Tidak semua anak bisa menerima keadaan bahwa rumah tangga kedua orang tuanya tidak baik-baik saja.
Sang anak pasti akan sedih bila kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah, apalagi jika disuruh untuk memilih ingin ikut siapa.
Mereka berdua bukan pilihan, karena setiap anak pun sayang keduanya.
Kondisi ini tidak hanya menghancurkan ikatan antara suami dan istri, tetapi juga meninggalkan trauma yang serius bagi anak-anak yang terjebak di dalamnya.
Dalam menghadapi tekanan emosional tersebut, sang anak cenderung akan mengalihkan perasaan yang dipendam dengan cara yang keliru seperti membuat onar, balap-balapan, melakukan bullying, terlibat pergaulan bebas, bahkan bisa saja melakukan self harm atau parahnya sampai bunuh diri.
Sebuah studi oleh American Psychological Association menemukan bahwa anak-anak yang mengalami broken home lebih cenderung menunjukkan perilaku bermasalah.
Namun, hal itu bukan berarti semua anak broken home mengalami masalah perilaku serta dinilai buruk dan hancur.
Stigma yang sudah mengakar sering kali menyebabkan anak dari keluarga yang tidak utuh merasa seolah-olah mereka telah kalah sebelum mencoba.
Nyatanya, berdasarkan penelitian selama 20 tahun, sekitar 80 persen orang-orang yang berasal dari keluarga broken home dapat beradaptasi dengan baik dan memperlihatkan efek positif dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan mental.
Menariknya, tidak seluruh dampak perceraian itu bersifat negatif.
Dalam banyak kasus, justru hubungan orangtua yang penuh konflik, tekanan emosional dan kekerasan fisik maupun verbal lebih merusak mental anak.
Anak yang tumbuh di lingkungan tersebut akan hidup dalam ketakutan dan rasa tidak aman.
Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan pernikahan demi status “keluarga utuh” justru dapat memperpanjang penderitaan anak.
Melihat hal tersebut, justru perceraian dapat menjadi solusi dari hubungan yang tidak sehat.
Meskipun menyakitkan, perpisahan orangtua terkadang lebih memberikan ketenangan dan lingkungan yang aman bagi anak.
Anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna tetapi lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.
Banyak anak broken home menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih percaya diri, lebih berusaha menjalani hidup yang lebih baik, serta paham pentingnya kasih sayang dalam sebuah keluarga.
Sang anak akan berusaha menjalani hidup lebih baik lagi agar tidak jatuh dalam lubang yang sama.
Apabila nanti punya keluarga, dia tidak akan membiarkan anaknya mengalami apa yang dia rasakan sebelumnya.
Anak broken home cenderung peka dengan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga.
Tidak selamanya anak broken home selalu berhubungan dengan stigma negatif, anak broken home hanya menyampaikan rasa sedihnya secara berlebihan.
Yang dibutuhkan anak broken home yaitu pendengar yang baik, yang bisa mendengarkan tetapi tidak menghakimi.
Dengan adanya pendengar yang baik, kebiasaan anak yang suka memendam segala sesuatu sendiri akan berkurang.
Emosinya pun bisa terlampiaskan dengan benar.
Selain itu, kekayaan juga tak serta membuat anak broken home merasa lebih baik.
Mempunyai orangtua yang gila kerja serta jika pulang, hanya suara pertengkaran yang didengar.
Bukan pelukan rindu atau ciuman penuh kasih sayang.
Secara finansial memang serba cukup, akan tetapi hilangnya kehangatan dalam keluarga membuatnya terasa hambar.
Kehadiran fisik orangtua tidak selalu mencerminkan kehadiran secara emosional.
Yang anak harapkan, biarpun serba kekurangan asal kehangatan keluarga itu tetap ada akan sangat membahagiakan, daripada serba bercukupan tetapi semuanya terasa asing karena tak ada lagi canda dan tawa di dalam rumah.
Rumah bukan lagi menjadi tempat pulang, anak merasa rumah telah menjadi neraka.
Maka dari itu, anak broken home memang tidak beruntung mengenai keluarga bukan berarti hidup dan mimpinya juga hancur.
Walaupun memiliki keluarga yang tidak utuh, hal itu tidak menghalangi anak untuk meraih mimpinya.
Banyak anak broken home yang memiliki prestasi, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa membanggakan.
Kurangnya dukungan yang menjadi faktor utama anak broken home menyimpang ke hal-hal negatif.
Oleh karena itu, anak broken home lebih membutuhkan dukungan daripada stigma yang melekat di diri mereka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Silvika-Rezkyana-unm.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.