Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Dasi kupu-kupu

Ammar menyusul di belakang berjalan pelan dengan jas hujan yang masih melekat.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - H. Alim Bahri Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Gowa. 

"Lah kamunya justru yang aneh, Gelo." Balas Ammar.

"Apa yang kamu pertama kali lihat kamu langsung menganggapnya aneh."

"Iyalah, emang aneh kok," Gelo tak mau kalah.

"Apanya yang aneh?" Balas Ammar sengit.

"Kamu tahu apa filosofi pakaian yang dikenakan oleh pegawai kemenhaj itu yang katakan aneh tadi?" Kali ini Ammar mode serius langsung ON

"Tidak tahu" pendek Gelo menjawab sambil geleng kepala.

"Begini, alasan di balik keputusan untuk menjadikan seragam PSL (Pakaian Sarung Lengkap) itu bukan keputusan yang mengada-ada. Ada referensi historis yang merujuk kepada para tokoh kemerdekaan yang selalu mengenakan jas, sarung, kopiah dan dasi kupu-kupu." Ammar mulai menjelaskan pelan agar Gelo yang pernah tinggal kelas dua tahun di SD dan masing-masing setahun di SMP dan SMA bisa paham.

"Dulu saat jaman awal pergerakan nasionalisme, para tokoh yang umumnya telah berhaji berusaha keras menabrak strereotipe   bahwa semua kaum pribumi itu bodoh dan terbelakang.

Pihak kolonial menganggap  kaum pribumi itu kolot, malas, bodoh dan kampungan." Jelas Ammar.

"Emang orang pribumi itu dulunya begitu?" Tanya Gelo polos.

"Ya tidaklah, justru anggapan bahwa semua kaum pribumi itu bodoh, terbelakang, tidak intelek atau apapun anggapan miring lainnya itulah yang dilawan." Nada suara Ammar makin bersemangat menjelaskan ke Gelo.

"Para pelopor gerakan nasionalisme ini berusaha menampilkan sosok  sebagai kaum modern, terpelajar dan bermartabat tapi tetap tidak melepaskan identitas budaya dan keislaman yang melekat kuat.

Sarung itu kan simbol bernuansa tradisi dan keagamaan sedangkan kopiah sebagai simbol nasionalisme kita.

Jas dan dasi kupu-kupu yang dikenakan oleh para bapak bangsa itu sebagai penanda jelas bahwa kaum pribumi juga adalah kaum yang terdidik, cerdas serta tidak ketinggalan jaman.

Perpaduan pakaian inilah yang kemudian dikenakan oleh para pelopor gerakan nasionalisme seperti H.Agus Salim, KH.Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved