Opini
Mengaktifkan Politik
Pada karya itu, Rocky Gerung mengkritik praktek demokrasi kita yang dianggapnya terbatas dan “tak berkecukupan”.
Syukurnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel intensif menjalankan kaderisasi itu, terutama sejak 2022.
Dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Sulsel. Pada Agustus 2025 lalu hingga sekarang, PKB Sulsel terus menerus melakukan kaderisasi itu di seluruh kabupaten/kota. Ribuan kader telah dihasilkan dari proses itu.
Kaderisasi itu bukan hanya sebagai pemenuhan tanggungjawab konstitusional PKB, tetapi kaderisasi itu juga adalah jalan mengaktifkan politik sebagai pintu besar untuk mendorong warga mengakses berbagai hak-hak kewarganegaraannya.
Artinya, untuk mengakses hak-hak kewargaan pintu itu harus “dijebol” oleh warga yang sadar politik.
Untuk menjebolnya, mengaktifkan politik sebagai kuncinya dan kaderisasilah salah satu bentuknya.
Kaderisasi diorientasikan untuk menciptakan politisi terdidik sekaligus pekerja politik yang terdidik. “Terdidik” dalam pengertian ini adalah punya kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan dalam mewujudkan politik demokratis yang memberi manfaat bagi citizenship sebagai tujuan demokrasi. Hanya dengan cara begitu demokrasi segera bermakna.
Kaderisasi itu juga berfungsi sebagai instrumen pencerahan politik demokratis terhadap warga negara yang terekrut dalam kaderisasi.
Sebab kita tahu, literasi politik demokratis tak pernah muncul dalam tindakan politik kader partai politik kita.
Pengetahuan politik demokratis itu ditenggelamkan oleh apa yang disebut Rocky Gerung dalam uraiannya—“kebenaran konsesus” elektoral.
Kita tahu, efek supremasi kebenaran konsensus itu sangat berpeluang menciptakan politik doktrinal sempit, otoriter tak demokratis.
Dengan itu semua, mengaktifkan politik salah satunya dengan kaderisasi akan menjadikan demokrasi bermakna, dan pemilu berguna. Kemanfaatan demokrasi pun segera terpenuhi dan diakses warga terutama ditingkat lokal.
Mengapa lokal? Karena sesungguhnya pergulatan warga dalam negara kita dominan berlangsung dilevel lokal.
Maka, keberhasilan dan kegagalan demokrasi di Indonesia sangat ditentukan oleh tindakan politisi kabupaten dan kota ketimbang yang lain. Itulah karenanya, PKB Sulsel fokus menjalankan kaderisasi dilevel lokal kabupaten/kota.
| Paskibraka, Prasangka, dan Janji Bhinneka Tunggal Ika |
|
|---|
| Paradoks Demokrasi Liberal: Ketika Pilihan Individu Terbentur Tembok Kultural dan 'Ewuh Pakewuh' |
|
|---|
| Spirit Kurban di Tengah Zaman yang Serba Transaksional |
|
|---|
| Pesan Kemanusiaan di Puncak Ketaatan Berkurban |
|
|---|
| Normalisasi Gaya Hidup Modern dan Erosi Budaya Makassar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-08-DR-H-Azhar-Arsyad-SH-MH.jpg)