Opini
Ketaatan Istri Bentuk Penghormatan, Bukan Perbudakan
Ketaatan istri adalah bagian dari sistem timbal balik, yang baru sah bila suami menunaikan amanahnya yaitu menafkahi, melindungi
Ringkasan Berita:Sebagaimana Nabi Muhammad SAW mencontohkan, beliau membantu pekerjaan rumah, memperlakukan istrinya dengan lembut, dan tidak pernah menuntut penghormatan tanpa alasan.
Bansuhari Said
ASN Pemkab Takalar
Ketaatan yang disalah gunakan: Cermin Bagi Para Suami
DI banyak rumah tangga, ketaatan istri sering dijadikan simbol kesalehan dan harmoni.
Namun, di balik narasi itu, terselip kenyataan getir banyak suami menuntut ketaatan mutlak, padahal ia sendiri gagal menjalankan kewajiban paling mendasar sebagai kepala keluarga.
Fenomena ini bukan sekadar masalah pribadi, tetapi gejala sosial tentang bagaimana kekuasaan dan tanggung jawab sering kali disalahgunakan dalam relasi suami-istri.
Ketika Dalil Dijadikan Tameng
Beberapa laki-laki berlindung di balik ayat dan hadis untuk menuntut kepatuhan mutlak istri.
Mereka mengutip, “istri wajib taat kepada suami,” namun lupa bahwa kalimat itu tidak berdiri sendiri.
Ketaatan istri adalah bagian dari sistem timbal balik, yang baru sah bila suami menunaikan amanahnya yaitu menafkahi, melindungi, dan memperlakukan istri dengan adil serta penuh kasih.
Seperti kata Prof Quraish Shihab, “Ketaatan istri itu bukan kepada suami yang lalim, tetapi kepada suami yang amanah.”
Maka, ketika seorang suami menggunakan dalil agama untuk menutupi kelalaiannya, ia bukan sedang beragama, melainkan sedang memanipulasi agama demi ego pribadinya.
Ketimpangan yang Tak Disadari
Di zaman modern, banyak istri yang bekerja bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena realitas hidup menuntutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251015-suami-yang-memaki-istrinya.jpg)