Opini
Ketaatan Istri Bentuk Penghormatan, Bukan Perbudakan
Ketaatan istri adalah bagian dari sistem timbal balik, yang baru sah bila suami menunaikan amanahnya yaitu menafkahi, melindungi
Harga kebutuhan naik, tanggungan bertambah, sementara penghasilan suami sering kali tak mencukupi.
Ironinya, walau istri turut menopang keuangan rumah tangga, sebagian suami tetap menuntut agar istri tunduk sepenuhnya pada kehendaknya.
Dari urusan rumah, pengasuhan anak, hingga keputusan pribadi.
Ini bukan lagi kepemimpinan; ini kolonialisme domestik.
Suami menghendaki kontrol total tanpa tanggung jawab setara. Ia ingin dihormati tanpa perlu pantas dihormati. Ia ingin ditaati tanpa perlu layak ditaati.
Padahal, dalam logika moral yang sehat, hak datang bersama kewajiban.
Tidak ada otoritas yang sah tanpa tanggung jawab yang dijalankan.
Ego Maskulinitas yang Rapuh
Fenomena ini menyingkap sisi lain dari psikologi maskulinitas yang rapuh. Banyak laki-laki dibesarkan dengan doktrin “lelaki harus berkuasa,” tapi tidak dibekali pemahaman “bagaimana menjadi pemimpin yang benar.”
Akibatnya, ketika istri lebih produktif atau lebih tangguh, sebagian suami merasa terancam — bukan karena kehilangan cinta, tetapi karena merasa harga dirinya runtuh.
Padahal, seperti diungkap Erich Fromm, filsuf sosial, “Cinta sejati bukanlah dominasi, melainkan keterlibatan dua pribadi yang saling memberi.”
Suami yang dewasa tidak merasa kalah oleh kesetaraan, karena ia tahu bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang di atas, tapi siapa yang paling mampu melindungi tanpa menindas.
Istri Bukan Bawahan, tapi Mitra
Rumah tangga yang sehat dibangun di atas asas partnership, bukan patriarki.
Dalam partnership, keputusan diambil bersama, pekerjaan rumah tangga dibagi sesuai kemampuan, dan ketaatan digantikan oleh saling pengertian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251015-suami-yang-memaki-istrinya.jpg)