Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ngopi Akademik

Nikah Massal

Pernikahan adalah kontrak sosial yang diakui dan biasanya melibatkan ikatan stabil antara dua individu atau lebih.

Editor: Sakinah Sudin
Grafis Tribun Timur/ Muhlis
NIKAH MASSAL - Potret Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas. Rahmat Muhammad salah satu penulis Opini Tribun Timur. 

Oleh: Rahmat Muhammad 

Ketua Prodi S3 Sosiologi Universitas Hasanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam kajian Sosiologi, pernikahan adalah institusi sosial universal yang berfungsi mengatur kehidupan seksual dan reproduksi, membentuk keluarga sebagai unit dasar masyarakat, serta menciptakan koherensi dan solidaritas sosial.

Pernikahan adalah kontrak sosial yang diakui dan biasanya melibatkan ikatan stabil antara dua individu atau lebih, meskipun bentuk, tujuan, dan maknanya bervariasi antar budaya dan periode waktu tertentu.

Sesuai pesan agama bahwa menikah adalah ibadah didasarkan pada konsep Islam, bahkan diasumsikan jika pernikahan merupakan ibadah terpanjang yang membentang dari akad nikah hingga akhir hayat, di mana setiap tindakan dan tanggung jawab dalam rumah tangga berpotensi bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah SWT.

Kita bersyukur Pemerintah Kota Makassar berencana menggelar nikah massal gratis untuk warga kurang mampu.

Kabar ini tentu disambut gembira banyak pasangan tidak terkecuali keluarga.

Bagaimana tidak, biaya pernikahan sering jadi momok menakutkan.

Mulai dari biaya administrasi, sewa gedung, catering, sampai berbagai keperluan lainnya bisa menguras tenaga dan tabungan yang berpotensi menimbulkan masalah baru sehingga wajar saja kalau banyak yang merasa terbantu dengan program ini.

Tetapi dibalik antusiasme itu ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama, apakah menikahkan warga miskin benar-benar jalan keluar terbaik, sementara masalah kemiskinan di kota ini masih menggunung?

Coba kita lihat datanya, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Makassar tahun 2023 mencapai lebih dari 80 ribu jiwa atau sekitar 4,58 persen dari total penduduk.

Tahun berikutnya, angka ini malah naik jadi 4,97 persen.

Memang kalau dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, persentasenya terlihat lebih kecil tetapi jangan sampai angka-angka ini membuat kita lupa bahwa dibalik statistik itu ada puluhan ribu manusia yang setiap hari bergumul dengan kesulitan hidup.

Bayangkan saja, mereka kesulitan makan tiga kali sehari dengan layak.

Mereka bingung bagaimana caranya menyekolahkan anak-anak.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved