Walhi Sulsel: Ruang Sipil Menyempit dan Bencana Ekologis Meningkat
Penanggap, dosen Fakultas Hukum Universitas Sawerigading Arif Maulana dan Direktur Profetik Institute Asratillah.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan (Sulsel) meluncurkan Laporan Riset dan Indeks Penyempitan Ruang Sipil dan Degradasi Ekologis Sulsel di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026).
Laporan riset ini berjudul Demokrasi yang Pudar di Tengah Lanskap yang Rapuh: Potret Keadilan Ekologis dalam Bayang-Bayang Penyempitan Ruang Sipil di Tiga Bentang Alam Sulsel.
Laporan riset ini diluncurkan di Lantai 2 Balai Sidang Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jl Sultan Alauddin, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulsel.
Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik Walhi Sulsel Slamet Riadi hadir sebagai narasumber.
Penanggap, dosen Fakultas Hukum Universitas Sawerigading Arif Maulana dan Direktur Profetik Institute Asratillah. Kegiatan ini dihadiri puluhan mahasiswa.
Slamet Riadi mengatakan, laporan riset ini disusun selama empat bulan, Januari hingga April 2026.
Penelitian ini menjangkau tiga wilayah dengan karakter ekologis yang berbeda, yakni ekosistem pesisir Kota Makassar, ekosistem karst Kabupaten Maros dan ekosistem hutan-pertambangan Kabupaten Luwu Timur (Lutim).
“Temuan yang muncul bukan hal yang asing di telinga warga terdampak. Namun kini ia hadir dengan data, angka, dan suara langsung dari lapangan-cukup keras untuk tidak lagi diabaikan,” katanya melalui keterangan tertulis diterima Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026).
Dalam laporan riset tersebut, ditemukan pertumbuhan yang tak merata, di lain sisi kerusakan alam semakin masif. Tingkat bencana pun meningkat.
Slamet Riadi memaparkan, Sulsel tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Ekonomi provinsi dengan 24 kabupaten/kota ini melaju di angka empat sampai tujuh persen per tahun, ditopang sektor pertambangan, konstruksi, dan infrastruktur strategis.
Menurutnya, pertumbuhan ini kerap dirayakan sebagai keberhasilan pembangunan daerah.
Namun, dibalik angka-angka tersebut bentang alam Sulsel menyimpan cerita yang berbeda.
Dalam satu dekade terakhir, bencana ekologis di Sulsel melonjak drastis.
Pada 2015 hanya 47 bencana terjadi, tapi di 2025 langsung melonjak hingga 147 bencana.
| Pembangunan yang Mendengar: Suara Warga Tidak Boleh Diabaikan |
|
|---|
| Kadis Koperasi Takalar Gerak Cepat Evakuasi Pagar Kantor Roboh, Libatkan DLH-Pertanahan |
|
|---|
| Penyuluh DLH Dampingi 24 RW di Panakkukang Kembangkan Bank Sampah |
|
|---|
| RT/RW Kelurahan Balang Baru Dapat Edukasi Pemilahan Sampah dari Penyuluh Persampahan DLH Makassar |
|
|---|
| Kurangi Sampah Plastik, Wajo Terapkan Penggunaan Tumbler di Kantor DLH |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/walhi-2026-666.jpg)