Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rupiah Tembus Rp18.059 per Dolar, Dosen Ekonomi Unhas Warning Pemerintah

Melemahnya rupiah memperpanjang tren negatif yang terjadi sejak Mei 2026. 

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Imam Wahyudi
Tribun-timur.com/Erlan Saputra
RUPIAH MELEMAH - Dosen Fakultas Ekonomi Unhas, Prof Muhammad Asdar. Guru Besar Unhas itu mengingatkan pemerintah segera mengambil langkah konkret setelah rupiah kembali melemah dan menembus level Rp18.000 per dolar AS. 

TRIBUN-TIMUR, MAKASSAR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan. 

Pada Kamis (4/6/2026) pukul 17.15 Wita, rupiah bahkan menembus level Rp18.059,35 per dolar AS.

Melemahnya rupiah memperpanjang tren negatif yang terjadi sejak Mei 2026. 

Pada pukul 12.45 siang, rupiah tercatat berada di level Rp18.043 per dolar AS atau melemah 0,42 persen. 

Sehari sebelumnya, Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,71 persen di posisi Rp17.967 per dolar AS.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Muhammad Asdar, mengingatkan pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

Sebab ini berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian nasional.

Menurutnya, pergerakan kurs ditentukan oleh banyak faktor.

Mulai dari kepastian hukum bagi investor hingga daya saing produk Indonesia di pasar global.

“Jadi kurs itu banyak faktor yang menentukan. Antara lain kepastian hukum orang yang berinvestasi, kemudian bagaimana produk-produk kita yang dijual,” ujar Prof Asdar kepada Tribun Timur, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, pergerakan rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. 

Dalam beberapa waktu terakhir, nilainya bergerak dari kisaran Rp16.000 per dolar AS hingga kini berada di atas Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut, kata dia, hampir pasti berdampak pada kenaikan harga berbagai barang impor yang masih menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia.

“Yang pasti bahwa kemarin kita sempat menyentuh Rp16.000 per dolar AS, lalu naik di angka Rp17.000 dan per hari ini di angka Rp18.000. Ini berarti harga-harga pasti naik,” tegasnya.

Prof Asdar menjelaskan, Indonesia masih sangat bergantung pada berbagai komoditas impor. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved