Rupiah Tembus Rp18.059 per Dolar, Dosen Ekonomi Unhas Warning Pemerintah
Melemahnya rupiah memperpanjang tren negatif yang terjadi sejak Mei 2026.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Imam Wahyudi
Mulai dari perangkat elektronik, hingga bahan pangan dan bahan baku industri.
Beberapa komoditas yang masih banyak didatangkan dari luar negeri antara lain kedelai untuk bahan baku tempe dan tahu, daging sapi dan kerbau, susu, gula konsumsi, bawang putih, serta gandum.
Karena itu, setiap pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan biaya impor yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.
“Otamatis daya beli masyarakat turun. Kalau daya beli masyarakat turun, kemudian banyak usaha-usaha yang terkait dengan impor bermasalah,” ujarnya.
Lebih jauh, Prof Asdar mengingatkan bahwa tekanan terhadap dunia usaha dapat berujung pada meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurutnya, sektor usaha yang sangat bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi yang tidak ringan.
“Tak menutup kemungkinan risiko PHK meningkat. Sebaliknya kalau eksportir memang senang karena mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah. Tapi tidak banyak di antara kita yang eksportir,” katanya.
Ia menyebut situasi saat ini sebagai kondisi yang harus diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Jadi ini sungguh luar biasa, kita harus hati-hati. Harus pemerintah segera pulihkan ini supaya bisa kembali,” ujarnya.
Prof Asdar menilai upaya pemulihan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu lembaga.
Menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Bank Indonesia harus kerja sama dengan pemerintah. Kewenangan Bank Indonesia itu di sektor moneter, sementara pemerintah di sektor fiskal,” jelasnya.
Selain berdampak pada harga barang dan dunia usaha, pelemahan rupiah juga dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Prof Asdar, beban pembayaran kewajiban yang terkait mata uang asing akan meningkat seiring melemahnya nilai tukar rupiah.
“Kita juga punya APBN. Pasti nanti APBN kita tambah membengkak karena jumlah rupiah yang dibayar untuk membayar utang meningkat,” katanya.
| Akademisi Unhas Desak Evaluasi Total Tata Kelola MBG, Pengawasan Wajib Makin Ketat |
|
|---|
| Kadin Sulsel Ungkap Sektor Paling Terdampak Saat Rupiah Tembus Rp18 Ribu |
|
|---|
| 'Alarm Keras' Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar Soroti Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS |
|
|---|
| Kesaktian Pancasila di Era Digital |
|
|---|
| Warga Makassar Banyak Beli Dolar Australia Daripada Amerika Serikat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/asdar-dosen-unhas.jpg)