Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kadin Sulsel Ungkap Sektor Paling Terdampak Saat Rupiah Tembus Rp18 Ribu

Pasalnya, kondisi ini berpotensi memengaruhi fundamental ekonomi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
PELEMAHAN RUPIAH - Foto Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel, Satriya Madjid dikirim ke Tribun-Timur.com, Mei 2026 lalu. Satriya Madjid menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dan dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun pelaku usaha. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan (Sulsel) menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun pelaku usaha.

Pasalnya, kondisi ini berpotensi memengaruhi fundamental ekonomi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel, Satriya Madjid, mengatakan yang perlu dicermati bukan hanya angka nilai tukar yang terus melemah, tetapi juga durasi pelemahan tersebut.

“Artinya, hal yang perlu dicermati oleh pemerintah dan pelaku usaha bukan hanya angkanya saja, tetapi berapa lama pelemahan ini akan berlangsung. Jika pelemahan ini bisa diantisipasi dengan cepat, hal itu bisa menyelamatkan fundamental ekonomi kita,” kata Satriya, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Kamis (4/6/2026).

Menurut Satriya, di Sulsel sektor yang paling terdampak adalah logistik dan distribusi.

Kenaikan kurs dolar secara langsung meningkatkan biaya operasional sektor-sektor yang masih bergantung pada komponen impor.

“Mau tidak mau, efeknya langsung terasa ke sana (logistik dan distribusi). Contohnya sektor jasa logistik atau sektor lain yang membutuhkan pergerakan. Secara langsung, sektor-sektor ini memiliki komponen yang bahan dasarnya berasal dari impor,” jelasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Inkindo Sulsel itu menambahkan, menilai momentum pelemahan rupiah ini justru dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor daerah.

Ia mendorong pemerintah dan pelaku usaha memperkuat ekspor, terutama komoditas unggulan Sulsel.

“Ekspor ini harus diperkuat karena momentumnya sedang tepat, saat nilai dolar sedang bagus. Mudah-mudahan dengan adanya kebijakan pemerintah yang membuat sistem satu pintu untuk ekspor, kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” katanya.

Ia mencontohkan para petani kelapa sawit yang diharapkan dapat memperoleh harga jual lebih baik melalui kemudahan akses ekspor tanpa terlalu bergantung pada perantara atau trader.

Lebih lanjut, Satriya mengingatkan bahwa jika kondisi pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang lama, dampak yang dirasakan pelaku usaha akan semakin besar.

Kenaikan biaya operasional dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga produk yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Pihaknya juga berharap pemerintah pusat segera menyiapkan langkah yang efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada langkah yang bisa kita lakukan agar kondisi ini bisa kembali normal, sesuai yang dijanjikan di kisaran Rp15.000,” kata Satriya. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved