'Alarm Keras' Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar Soroti Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Pellemahan rupiah pada level tersebut menjadi sinyal kewaspadaan bagi stabilitas moneter jangka pendek karena berpotensi memicu kepanikan di pasar.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Sakinah Sudin
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Dr Rendra Anggoro menilai nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) merupakan alarm keras bagi perekonomian.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan kombinasi tekanan eksternal akibat ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan moneter ketat di luar negeri.
Juga sekaligus mencerminkan kerentanan struktural domestik, terutama ketergantungan terhadap modal asing jangka pendek atau hot money.
“Angka Rp18.000 per dolar AS jelas merupakan alarm keras bagi perekonomian nasional kita," kata Rendra, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Kamis (4/6/2026)
"Tetapi kita harus membedahnya secara jernih karena ini merupakan kombinasi tekanan eksternal dan kerentanan struktural domestik,” jelasnya.
Rendra menjelaskan, pelemahan rupiah pada level tersebut memang menjadi sinyal kewaspadaan bagi stabilitas moneter jangka pendek karena berpotensi memicu kepanikan di pasar.
Namun, dari sisi fundamental makroekonomi, Indonesia dinilai belum berada dalam kondisi krisis mengingat sektor perbankan dan rasio kecukupan modal masih memiliki bantalan yang relatif aman.
Meski demikian, daya tahan tersebut akan menghadapi ujian berat apabila pelemahan rupiah terus berlanjut.
Rendra menilai dampak paling cepat yang akan dirasakan adalah meningkatnya inflasi impor.
Kenaikan harga bahan baku industri, komponen manufaktur, dan sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung pada impor diperkirakan akan memicu kenaikan biaya produksi.
Kondisi tersebut terjadi di tengah daya beli masyarakat yang saat ini juga sedang mengalami tekanan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa APBN akan menghadapi tekanan yang tidak ringan akibat membengkaknya beban subsidi energi.
Seperti BBM dan listrik, serta meningkatnya biaya pembayaran cicilan utang luar negeri yang menggunakan denominasi dolar AS.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan perhitungan ulang secara cermat agar defisit anggaran tetap berada dalam batas aman dan tidak mengganggu kepercayaan investor global terhadap kondisi fiskal Indonesia.
“Situasi ini memaksa pemerintah melakukan kalkulasi ulang yang sangat ketat agar defisit anggaran tidak melampaui batas aman dan memicu penurunan kredibilitas fiskal di mata investor global,” katanya.
| PHK di Sulsel Tinggi, Sektor Ritel hingga Konstruksi Dinilai Rentan |
|
|---|
| Investasi Makassar Naik Daun |
|
|---|
| Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar: Kebijakan BI Tahan Suku Bunga Masih Relevan |
|
|---|
| Risk Premium Channel, Disiplin Fiskal dan Depresiasi Ekstrim Rupiah |
|
|---|
| Kenaikan Harga Gas LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Jadi Ujian Warga Kelas Menengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260604-Pengamat-Ekonomi-Unismuh-Makassar-Soroti-Rupiah-Tembus-Rp18000-per-Dolar-AS.jpg)