Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar: Kebijakan BI Tahan Suku Bunga Masih Relevan

Kondisi ekonomi saat ini belum cukup kuat, tetapi juga belum tertekan hingga membutuhkan kebijakan yang agresif.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Istimewa
SUKU BUNGA - Pengamat Ekonomi dari Unismuh Makassar, Dr Rendra Anggoro. Rendra menilai bebijakan BI tahan suku bunga masih relevan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026.

Selain BI-Rate, BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 3,75 persen serta Lending Facility sebesar 5,5 persen.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Rendra Anggoro, menilai keputusan tersebut sebagai langkah yang moderat dan penuh kehati-hatian, serta masih relevan.

Menurutnya, BI sedang berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi.

Terutama inflasi dan nilai tukar, dengan upaya mempertahankan momentum pertumbuhan.

“Dalam konteks saat ini, BI tampaknya ingin menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi,” kata Rendra, kepada Tribun-Timur.com, Jumat (24/4/2026).

Rendra menjelaskan, kondisi ekonomi saat ini belum cukup kuat, tetapi juga belum tertekan hingga membutuhkan kebijakan yang agresif.

Karena itu, sikap menahan suku bunga dinilai sebagai pilihan yang realistis.

Rendra juga menilai optimisme BI terhadap pertumbuhan kredit cukup rasional, meskipun bersifat kondisional.

Baca juga: Forum Ekonomi Syariah BI Sulsel dan Seruan MBG untuk Guru Mengaji

Ia menjelaskan stabilnya suku bunga memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam merencanakan pembiayaan dan ekspansi, didukung oleh kondisi likuiditas perbankan yang relatif memadai.

“Pertumbuhan kredit tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat suku bunga, tetapi juga oleh faktor kepercayaan pelaku usaha dan prospek ekonomi secara umum,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar optimisme tersebut tetap dibaca secara hati-hati.

Faktor eksternal seperti arah kebijakan moneter global dan ketidakpastian ekonomi dunia masih berpotensi memengaruhi stabilitas domestik.

Di sisi lain, tantangan dari dalam negeri seperti daya beli dan kualitas kredit juga perlu menjadi perhatian.

Dalam situasi tersebut, Rendra menekankan pentingnya perbankan untuk tidak hanya mengejar target pertumbuhan kredit.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved