Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ekonomi Tak Pasti, Pengamat Minta Pelaku Usaha Jeli Tangkap Peluang

Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,61 persen, dan inflasi masih terkendali.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Waode Nurmin
Tribun-timur.com
EKONOMI TAK PASTI - Potret Pengamat Ekonomi Keuangan dan Perbankan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Sutardjo Tui, dikirim ke Tribun-Timur.com pada 2025 lalu. Dr Sutardjo Tui menilai pelaku usaha harus jeli menangkap peluang di tengah ketidakpastian ekonomi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketidakpastian ekonomi yang terjadi saat ini memunculkan beragam penafsiran di tengah masyarakat.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah terhadap saat ini menyentuh level Rp18.000 per dolar.

Pengamat Ekonomi Keuangan dan Perbankan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Sutardjo Tui, mengatakan kondisi ekonomi Indonesia masih ditopang oleh berbagai indikator makro yang positif.

Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,61 persen, dan inflasi masih terkendali.

Begitu pun tingkat pengangguran relatif stabil, serta cadangan devisa masih cukup untuk membiayai kebutuhan impor selama sekitar empat bulan.

Selain itu, rasio utang pemerintah masih terkendali dan defisit anggaran tetap berada di bawah batas 3 persen sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.

Menurut Sutardjo, upaya pemerintah memperkuat perekonomian juga terlihat melalui pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang diarahkan sebagai pengelola ekspor satu pintu bagi komoditas sumber daya alam strategis.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah karena dapat meminimalkan praktik undervoicing ekspor-impor dan transfer pricing yang selama ini berpotensi mengurangi penerimaan negara.

“Pelaksanaan ekspor satu pintu berujung pada peningkatan devisa hasil ekspor yang kurang berkenan adalah broker,” kata Sutardjo, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026),

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, Sutardjo menilai para pengusaha justru memiliki peluang untuk meningkatkan keuntungan usaha.

Namun, peluang itu hanya dapat diraih apabila pelaku usaha mampu melakukan perhitungan secara cermat dan menerapkan mitigasi risiko yang terukur.

Ia menjelaskan, dunia usaha pada dasarnya terbagi ke dalam dua sektor utama, yakni sektor finansial dan sektor riil.

Sektor finansial mencakup investasi saham, obligasi, surat berharga, perdagangan valuta asing, serta simpanan perbankan.

Sementara sektor riil meliputi perdagangan, pertanian, perkebunan, perikanan, industri, termasuk industri pangan seperti tempe dan berbagai usaha produktif lainnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved