Sengkarut Proyek PLTSa Makassar
'Ambil Beras, Jangan Ikut Demo, Jangan Melawan'
AK menceritakan rencana proyek PLTSa di Tamalanrea yang mengemuka sejak tahun 2024 lalu, mendapat penolakan keras dari warga.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Edi Sumardi
Dokumen ini bertentangan dengan cerita Sr dan warga setempat yang mengaku tak dilibatkan.
Keterangan lainnya dalam dokumen tersebut, perusahaan intens melakukan kampanye, sosialisasi dan penyuluhan kepada penduduk terkait proyek ini, termasuk dampak-dampaknya.
Sementara dari dokumen ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) rencana pembangunan PLTSa yang disusun, perusahaan menuliskan, kegiatan Pra Kondisi Sosial Masyarakat melalui sosialisasi kegiatan kepada warga (door to door) dan FGD di Kampung Mula Baru Kelurahan Bira, Kampung Tamalalang di Kelurahan Parangloe.
Aktivitas tersebut dilakukan dengan pendekatan sosial ekonomi yaitu memberikan CSR kepada warga.
Dituliskan bahwa responden yang bermukim di RW 05 Tamalalang yang menyatakan mendukung rencana kegiatan Pembangunan PLTSa sebesar 61,40 persen.
Sementara responden yang disebut tak setuju hanya 8,77 persen. Pengumpulan data melalui kuesioner di Kampung Mula Baru tak dapat dilakukan sehingga tak dicantumkan data kuantitatifnya pada dokumen tersebut.
Berdasarkan perbandingan antara isi dokumen lingkungan dan keterangan warga di lapangan, PT SUS diduga melakukan manipulasi data partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan dokumen Amdal PLTSa.
Klaim perusahaan mengenai wawancara, survei, sosialisasi intensif, hingga dukungan mayoritas warga bertentangan dengan pengakuan sejumlah warga Kampung Mula Baru dan Tamalalang yang menyatakan tidak pernah dilibatkan secara langsung.
Lebih jauh, pendekatan sosial yang disebut sebagai prakondisi melalui CSR juga dinilai mengaburkan batas antara sosialisasi proyek dan upaya memperoleh legitimasi.
Kondisi ini menguatkan dugaan bahwa penolakan dan keberatan sebagian masyarakat terhadap proyek PLTSa diabaikan, bahkan tidak tercermin secara utuh dalam dokumen resmi lingkungan.
Hal sama diungkap tokoh masyarakat Kampung Mula Baru, Az. Tandatangan warga, KTP hingga KK jadi alat barter sembako.
Tandatangan masyarakat disalahgunakan untuk memenuhi syarat kelengkapan dokumen AMDAL. PT SUS diduga memanfaatkan warga yang ekonominya lemah untuk mendukung PSEL.
Selain bantuan beras secara berkala, mereka juga memanfaatkan momen tertentu seperti perayaan 17 Agustus untuk berbagi hadiah, menang dan kalah dalam perlombaan tetap kebagian.
Berbagi daging kurban juga sempat hebohkan masyarakat.
Bagi sebagian warga, praktik tersebut tidak lagi dipahami semata sebagai kegiatan sosial, melainkan upaya pendekatan agar warga berat hati menolak PLTSa.(bersambung)
Baca berita selanjutnya: Warga dan Pejabat Makassar Dibawa Jalan-jalan ke China Lihat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
| Kenapa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Dibikin di Tamalanrea tapi TPA Ada di Antang? |
|
|---|
| Walhi: AMDAL Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Makassar 'Kejar Tayang' |
|
|---|
| Warga dan Pejabat Makassar Dibawa Jalan-jalan ke China Lihat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah |
|
|---|
| Diperkuat Pernyataan Guru Besar Unhas, Alasan Warga Tamalanrea Terusik Proyek PLTSa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/daftar-hadir-pltsa-1-1922026.jpg)