Sengkarut Proyek PLTSa Makassar
'Ambil Beras, Jangan Ikut Demo, Jangan Melawan'
AK menceritakan rencana proyek PLTSa di Tamalanrea yang mengemuka sejak tahun 2024 lalu, mendapat penolakan keras dari warga.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Edi Sumardi
AK menyebut, dalam forum tersebut jawaban PT SUS dinilai cenderung normatif dan menghindari pertanyaan krusial yang diajukan warga.
Penolakan semakin kuat pasca sosialisasi itu.
Sejumlah warga tergabung dalam forum Gerakan Rakyat Menolak (Geram) lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Mereka mengajak warga menandatangani petisi penolakan. Aksi unjuk rasa perdana kemudian digelar pada 29 Juli 2025 di depan lokasi proyek.
Perjuangan itu masih berlanjut hingga kini.
Warga Kampung Mula Baru dan Tamalalang terus menyuarakan penolakan melalui berbagai forum, baik secara informal maupun dalam pertemuan resmi dengan pemerintah setempat.
Mereka menilai, meski resistensi telah disampaikan berulang kali, upaya mendorong proyek PLTSa tetap berjalan tanpa kejelasan sikap dari otoritas terkait.
AMDAL di Atas Kertas
Proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kelurahan Parang Loe, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar, diduga tidak sepenuhnya berjalan secara partisipatif dan jujur.
Sejumlah warga mengungkap adanya dugaan manipulasi persetujuan masyarakat melalui pemberian bantuan, insentif rutin, hingga pemanfaatan daftar hadir rapat sebagai alat legitimasi dukungan warga.
Kesaksian ini disampaikan oleh Sr, warga Tamalalang, Kelurahan Parang Loe yang mengaku mengetahui langsung upaya membungkam penolakan terhadap proyek PTSa.
“Ada orang-orang yang datang menawarkan beras ke rumah warga. Tapi pesannya jelas, ambil beras, jangan ikut demo, jangan melawan,” kata Sr, Senin, (22/12/2025).
Ada syarat bagi warga yang ingin sembako, wajib membawa KTP dan Kartu Keluarga.
Identitas tersebut diduga jadi pegangan untuk membangun narasi bahwa warga telah terdata dan dianggap menyetujui rencana proyek tersebut.
Menurutnya, bantuan beras 5 kilogram itu bukan sekadar bantuan sosial, tetapi disertai hasutan agar warga tidak terlibat dalam aksi penolakan proyek PSEL.
| Kenapa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Dibikin di Tamalanrea tapi TPA Ada di Antang? |
|
|---|
| Walhi: AMDAL Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Makassar 'Kejar Tayang' |
|
|---|
| Warga dan Pejabat Makassar Dibawa Jalan-jalan ke China Lihat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah |
|
|---|
| Diperkuat Pernyataan Guru Besar Unhas, Alasan Warga Tamalanrea Terusik Proyek PLTSa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/daftar-hadir-pltsa-1-1922026.jpg)