Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Warkop Sebagai Ruang Sosial dan Pendidikan Alternatif

Salah satu wajah perubahan yang paling kasat mata adalah menjamurnya warung kopi atau yang akrab disebut warkop. 

Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
OPINI - Muhammad Tang Direktur PPs STAI Al-Furqan Makassar dan Ketua Umum ICMI Muda MPW Sulsel 

Beberapa warkop bahkan menjadi “kampus jalanan” bagi anak muda.

Mereka berdiskusi tentang kebijakan publik, membaca buku bersama, bahkan merancang gerakan sosial dari balik gelas kopi. Ini menunjukkan bahwa budaya literasi tak melulu harus tumbuh di ruang kelas atau perpustakaan.

Ada banyak komunitas di Makassar yang lahir dan berkembang dari warung kopi, seperti komunitas literasi, seni, film, dan kepemudaan.

Bahkan terbentuknya kepengurusan ICMI Muda MPW Sulawesi-Selatan periode 2025-2030 itu terbentuk hasil diskusi beberapa warkop di kota Makassar, dan mungkin juga beberapa organisasi atau lembaga (pemerintah dan non pemerintah) lainnya terbentuk kepengurusannya hasil diskusi Warung Kopi. 

Di lain kesempatan, penulis saksikan warkop juga berfungsi sebagai tempat pengajian atau kajian keagamaan. 

Bahkan ada hal yang menarik perlu diadopsi kampus-kampus yang ada di Indonesia, beberapa tahun yang lalu (2022) mengadakan kunjugan (short course) ke Turkey mendapatkan suatu kampus mengelola perpustakaan yang di dalamnya ada warkop. 

 Diskusi-diskusi kecil yang berawal dari obrolan santai sering kali bermuara pada aksi nyata.

Warkop menjadi incubator ide-ide perubahan, terutama di kalangan generasi muda. Di sinilah letak pentingnya melihat warkop sebagai wadah pembelajaran sosial.

Antara Produktivitas dan Kemalasan: Dilema Kultural

Namun, di sisi lain, fenomena warkop juga menyimpan ironi.

Tidak sedikit pula yang menjadikan warung kopi sebagai tempat "melarikan diri" dari realitas. 

Sejumlah pemuda menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game online, berjudi, atau sekadar berbicara tanpa arah.

Jika tidak dikelola dengan baik, budaya nongkrong bisa menjadi penghambat produktivitas dan menciptakan generasi "cangkir kosong": banyak berbicara, sedikit aksi.

Di sinilah pentingnya pendekatan edukatif. Pemerintah kota, tokoh masyarakat, dan pegiat pendidikan bisa memberdayakan warkop sebagai simpul literasi.

Misalnya, mengadakan "Ngopi Sambil Diskusi", pelatihan digital untuk UMKM lokal, atau bahkan menyediakan sudut baca di beberapa warkop strategis. Dengan cara ini, potensi warkop sebagai ruang pembelajaran dapat dimaksimalkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved