Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Warkop Sebagai Ruang Sosial dan Pendidikan Alternatif

Salah satu wajah perubahan yang paling kasat mata adalah menjamurnya warung kopi atau yang akrab disebut warkop. 

Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
OPINI - Muhammad Tang Direktur PPs STAI Al-Furqan Makassar dan Ketua Umum ICMI Muda MPW Sulsel 

Oleh: Muhammad Tang

Direktur PPs STAI Al-Furqan Makassar dan Ketua Umum ICMI Muda MPW Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Makassar, sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia bagian timur, mengalami transformasi sosial yang cukup dinamis dalam beberapa dekade terakhir. 

Salah satu wajah perubahan yang paling kasatmata adalah menjamurnya warung kopi atau yang akrab disebut warkop. 

Dari lorong sempit hingga pusat kota, dari gang kampung hingga gedung pencakar langit, warkop telah menjadi elemen yang tak terpisahkan dari kehidupan urban masyarakat Makassar.

Fenomena ini tentu tidak bisa hanya dibaca sebagai gejala ekonomi atau gaya hidup konsumtif belaka.

Lebih dari itu, warkop kini menjelma menjadi ruang sosial, bahkan ruang pendidikan alternatif, tempat bertemunya gagasan, perbedaan kelas sosial, dan dinamika budaya lokal. 

Dalam konteks ini, penting untuk melihat warung kopi bukan hanya sebagai tempat minum kopi, melainkan sebagai ruang interaksi kultural yang produktif.

Warkop Sebagai Cermin Dinamika Sosial Kota

Dalam literatur sosiologi kota, tempat nongkrong seperti warkop sering disebut sebagai “third place”, yakni ruang publik informal selain rumah (first place) dan tempat kerja (second place), di mana orang dapat berkumpul, berdialog, dan membangun jejaring sosial (Oldenburg, 1999).

 Warkop di Makassar memenuhi fungsi ini secara paripurna.

Tidak seperti kafe modern yang bersifat eksklusif, warkop di Makassar bersifat inklusif.

Di satu meja bisa duduk berjejer mahasiswa, tukang ojek online, dosen, aktivis, hingga pejabat. 

Warkop menjadi arena dialog lintas kelas sosial, tempat segala isu dibahas mulai dari sepakbola, politik, agama, hingga peluang usaha. Inilah bentuk pendidikan nonformal yang tumbuh secara organik dari masyarakat.

Warung Kopi dan Budaya Literasi

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved