Opini
Politik Riset dan Peringkat di Indonesia
Brian Schmidt, salah satu nobel laureate bidang Fisika yang hadir pada kegiatan itu memberikan kritik yang cukup tajam dan menyayat.
Oleh: Arief Wicaksono
Akademisi Universitas Bosowa, Pemerhati Ruang
TRIBUN-TIMUR.COM - Kehadiran dua peraih Nobel, Sir Konstantin Sergeyevich Novoselov dan Professor Brian Schmidt dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang digelar di ITB Bandung pada 8 Agustus 2025 yang lalu (Detik.com, 2025), memberikan kita lebih dari sekadar seremoni dan foto bersama.
Kehadiran mereka adalah panggilan untuk membesuk dan menilai kembali bagaimana negara ini memproduksi, mendistribusikan, dan menggunakan pengetahuan ilmiah.
Kehadiran mereka membuka peluang menimbang ulang prioritas kebijakan riset dan pendidikan tinggi, apakah orientasinya untuk memenuhi kebutuhan lokal dan pembangunan nasional, atau sekadar mengejar legitimasi lewat peringkat global?
Brian Schmidt, salah satu nobel laureate bidang Fisika yang hadir pada kegiatan itu memberikan kritik yang cukup tajam dan menyayat.
Schmidt mengatakan bahwa, “Universitas jadi terjebak dalam perlombaan menaikkan peringkat, bukan memenuhi kebutuhan nyata mahasiswa. Ini distorsi besar dalam sistem pendidikan tinggi.”
Kata-kata Schimidt itu bukan sekedar seruan akademis belaka, kita harus menganggapnya sebagai tamparan etis.
Ketika tujuan pendidikan terkonversi menjadi angka-angka metrik, maka praktik pendidikan dan riset mudah melenceng dari misi sosialnya.
Novoselov dan pembicara lain di forum yang sama juga menekankan bahwa riset sejati butuh kebebasan bereksperimen dan dukungan jangka panjang, bukan sekadar produktivitas demi skor konferensi internasional belaka.
Paradoks ruang akademik
Pernyataan para ilmuwan kelas dunia di ITB kemarin harus dibaca berbarengan dengan data riil.
Indikator kuantitatif menunjukkan peningkatan kapasitas publikasi ilmiah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.
Data Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia (IIRI) 2024 yang diterbitkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan laju perbaikan metrik sitasi dan output publikasi institusional dimana volume publikasi ilmiah di Indonesia menunjukkan tren yang positif dalam rentang waktu tahun 2019–2023.
Tercatat sekitar 259.849 artikel jurnal internasional yang telah dipublikasikan, dengan 253.897 di antaranya telah tersitasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250810-Arief-Wicaksono.jpg)