Opini
Jalur Neraka Gunung Rinjani: Pelajaran Kesehatan dari Tragedi Turis Brasil
Tragedi turis Brasil di Gunung Rinjani jadi pelajaran soal pentingnya kesiapan fisik, mental, dan pemahaman kesehatan sebelum mendaki.
Pengetahuan tentang kesehatan dalam mendaki gunung juga sangat penting, terutama bagaimana tubuh merespons cuaca ekstrem di puncak.
Penelitian Permatasari dan Sidarta (2021) dari Universitas Trisakti menemukan bahwa 73,3 persen pendaki yang terbiasa beraktivitas fisik hanya mengalami Acute Mountain Sickness (AMS) ringan.
Sebaliknya, lebih dari 50 persen pendaki yang jarang berolahraga mengalami AMS sedang hingga berat. Ini menunjukkan bahwa tubuh yang tak terlatih rentan terhadap tekanan udara dan kadar oksigen rendah di gunung.
Dalam kasus ekstrem seperti hipotermia, gejala sering muncul perlahan namun bisa sangat mematikan.
Penelitian dari New Hampshire (2025) mengungkap bahwa suhu di gunung bisa turun drastis di malam hari, bahkan ketika siangnya terasa hangat.
Penelitian ini menegaskan bahwa hipotermia merupakan ancaman serius jika pendaki tak mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan peralatan memadai.
Penelitian lain dari Frontiers in Molecular Biosciences (2025) menjelaskan peran protein Heat Shock Proteins (HSPs) dalam menjaga kestabilan suhu tubuh di cuaca ekstrem.
Namun, mekanisme ini tak cukup jika tidak didukung asupan energi, pakaian tebal, dan kondisi tubuh yang prima.
Bagas Adi Permadi (2025) juga menemukan bahwa mayoritas pendaki yang rutin melakukan latihan fisik menunjukkan daya tahan lebih baik.
Sebanyak 86 persen pendaki laki-laki dan 68 persen pendaki perempuan dengan aktivitas tinggi jarang mengalami cedera atau kelelahan parah di jalur menanjak.
Hasil-hasil ini seharusnya menjadi peringatan, baik bagi pendaki pemula, pendaki senior, penyedia jasa wisata, maupun otoritas pengelola gunung.
Edukasi tentang kesehatan dan keselamatan mendaki harus ditingkatkan guna mengurangi risiko kecelakaan.
Tragedi yang menimpa Juliana menjadi pelajaran penting. Perubahan budaya dalam pendakian mutlak diperlukan.
Persiapan fisik dan mental idealnya dilakukan 2–4 minggu sebelum mendaki.
Latihan kardio seperti lari, bersepeda, treadmill, renang, dan penguatan otot inti seperti plank serta squat adalah modal dasar yang wajib dilakukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji-123.jpg)