Opini
Jalur Neraka Gunung Rinjani: Pelajaran Kesehatan dari Tragedi Turis Brasil
Tragedi turis Brasil di Gunung Rinjani jadi pelajaran soal pentingnya kesiapan fisik, mental, dan pemahaman kesehatan sebelum mendaki.
Latihan dilakukan bertahap agar tubuh tidak kaget menghadapi suhu dan tekanan ekstrem di ketinggian.
Pakaian pun harus sesuai prinsip berlapis: lapisan dasar untuk menyerap keringat, lapisan tengah menjaga suhu tubuh, dan lapisan luar melindungi dari angin serta hujan.
Selain itu, perlengkapan survival wajib dibawa, seperti peluit, senter cadangan, kantong tidur, dan alat komunikasi pelacak lokasi.
Pendakian pun harus dilakukan berkelompok, dengan pemandu berpengalaman.
Kesalahan fatal sering terjadi saat pendaki memaksakan diri melanjutkan perjalanan dalam kondisi tubuh lelah dan mental goyah.
Dalam situasi ekstrem, bertahan di tempat, menjaga energi, dan memberi sinyal bantuan jauh lebih bijak daripada mengambil risiko menuruni jalur yang tidak dikenali.
Tragedi ini menyadarkan kita bahwa seindah apa pun gunung dan latar foto Instagram-nya, ia tetap medan berbahaya. Gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dihargai dan dijalani dengan bijak.
Mulai sekarang, mari ubah pola pikir mendaki bukan soal menaklukkan alam, melainkan berdamai dan berbahagia bersamanya. Kesehatan dan keselamatan harus selalu jadi prioritas.
Semoga kisah Juliana bukan hanya dikenang sebagai duka, tetapi juga titik balik agar kita semua lebih bijak menjaga diri di ketinggian alam bernama “Gunung”. (*)
Penulis: Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji-123.jpg)