Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Waisak: Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan

Presiden mengajak agar melalui cinta kasih dan ketulusan, dapat mempererat persaudaraan serta menebarkan kedamaian dalam kehidupan berbangsa.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Miguel Dharmadjie ST CPS® CCDd® Penyuluh Agama Buddha Non PNS Provinsi Sulsel 

Oleh: Miguel Dharmadjie ST CPS® CCDd®

Penyuluh Agama Buddha Non PNS Provinsi Sulsel
 
TRIBUN-TIMUR.COM - ​Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE. dalam akun resmi Kepresidenan, tepat pada Hari Waisak.

Presiden mengajak agar melalui cinta kasih dan ketulusan, dapat mempererat persaudaraan serta menebarkan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ​

​“Semoga perayaan Waisak senantiasa membawa ketenangan, kebijaksanaan, dan semangat welas asih bagi kita semua. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia,” kata Presiden Prabowo.

​Tahun ini, Hari Tri Suci Waisak 2569 Buddhist Era (BE.) atau Tarikh Buddhis (TB.) diperingati pada tanggal 12 Mei 2025. Dengan Detik-Detik Waisak 2569 jatuh pada pukul 23.55.29 WIB.

Bagi umat Buddha, Hari Tri Suci Waisak dikenal sebagai Hari Buddha; satu dari empat hari suci agama Buddha. Memperingati tiga peristiwa suci, agung, dan mulia dalam kehidupan Buddha Gotama.

Peristiwa Waisak terjadi saat purnama raya di bulan Waisak; pada hari yang sama, namun tahun yang berbeda.  

​Saat dimana Pangeran Siddharta Gotama lahir di Taman Lumbini, Nepal (623 SM). Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Buddha di Bodhgaya, India (588 SM).

Serta Buddha Gotama ber-Parinibbana dan mangkat di Kusinara, India (543 SM).

Peringatan Waisak menjadi momen sakral dan momentum penting bagi umat Buddha. Untuk menghayati, merenungkan dan mempraktikkan nilai-nilai Kebenaran Universal (Dhamma).

Sebagai pedoman hidup luhur dalam kehidupan bersesama. Baik dalam skala makro maupun global.

Saat ini, dunia tengah menghadapi situasi dan kondisi yang tidak mudah. Perselisihan dan pertikaian terjadi di berbagai tempat.

Konflik dan perang pun masih berkecamuk di beberapa wilayah hingga kini. Membuat perpecahan nampak nyata. Persatuan dan perdamaian menjadi terkoyak.  

Di tengah situasi dan kondisi yang serba sulit ini, peran nilai universal agama menjadi sangat dibutuhkan.

Termasuk prinsip nilai-nilai Dhamma yang diharapkan sebagai solusi. Dalam mengatasi perpecahan, membangun solidaritas, dan bekerja bersama masyarakat luas. Mewujudkan dunia yang damai dan harmonis.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved