Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kami Bersama Yuran

Laga ini menuai kontroversi akibat kepemimpinan wasit yang dinilai tidak menjalankan Laws of the Game secara adil.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, M.Si Dosen Sosiologi Unhas 

Oleh: Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, M.Si

Dosen Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Pertandingan antara PSS Sleman melawan PSM Makassar menjadi titik awal munculnya gerakan sosial digital bertajuk #KamiBersamaYuran.

Laga ini menuai kontroversi akibat kepemimpinan wasit yang dinilai tidak menjalankan Laws of the Game secara adil.

Sejumlah keputusan krusial, seperti gol pertama yang dicetak oleh Yuran Fernandes dan beberapa pelanggaran yang diabaikan, dianggap merugikan PSM Makassar

Tayangan ulang pertandingan memperlihatkan sejumlah insiden kontroversial yang memicu protes.

Di tengah pertandingan, kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes, sempat melayangkan protes keras terhadap keputusan wasit, namun tetap melanjutkan laga dengan sportivitas.

Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan PSS Sleman, tetapi hasil itu menyisakan kekecewaan, bukan hanya karena kekalahan, melainkan karena integritas pertandingan yang dianggap telah dirusak oleh perangkat wasit.

Setelah pertandingan, Yuran menyampaikan kekecewaannya melalui Instagram pribadinya.

Dalam unggahan tersebut, ia menyatakan bahwa “sepakbola di Indonesia hanya candaan. Makanya, level dan korupsinya akan tetap sama. Jika Anda ingin menghasilkan uang, Anda bisa datang ke Indonesia. Jika Anda ingin bermain sepakbola serius, menjauhlah dari Indonesia.”

Unggahan ini menjadi bentuk kritik keras terhadap kondisi persepakbolaan nasional.

Meskipun sehari kemudian unggahan itu dihapus dan digantikan dengan permohonan maaf, kritik Yuran telah menyulut perbincangan publik luas.

Banyak yang menilai bahwa kritik tersebut mencerminkan kejujuran seorang atlet yang peduli terhadap kualitas dan keadilan dalam olahraga yang dicintainya.

Dalam konteks ini, Yuran Fernandes dapat dipahami sebagai atlet yang menjalankan peran sosialnya dengan menyuarakan penyimpangan yang terjadi dalam sistem.

Seperti halnya Colin Kaepernick yang memprotes ketidakadilan rasial di Amerika Serikat, atau LeBron James yang secara aktif menggunakan platform media sosial untuk menyuarakan isu-isu sosial, Yuran pun mengambil posisi serupa. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved