Opini Rifqy Tenribali Eshanasir
Tarif Trump: Mendesak Adanya Respon ASEAN yang Terkoordinasi
Tarif ini menargetkan ekspor semua negara ke AS dengan pungutan biaya dasar sebesar 10 persen
Pembentukan ASEAN juga mengandung suatu kesepakatan bahwa negara-negara Asia Tenggara berbagi tanggung jawab memperkuat stabilitas ekonomi dan sosial-politik di kawasan dan memastikan pembangunan dan perdamaian di antara negara-negara di kawsan tersebut.
Tidak hanya di masa lalu, sampai sekarang kemampuan ASEAN mengelola keseimbangan hubungannya dengan negara-negara adidaya AS dan China sangat penting, dan akan berguna dalam mewujudkan respon yang lebih terkoordinasi.
Patut diingat bahwa ASEAN merupakan satu-satunya organisasi multilateral di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa yang secara konsisten mampu mengajak negara-negara besar seperti AS dan China menghadiri perundingan secara bersamaan.
Baik AS maupun China secara rutin menghadiri Forum Regional ASEAN, bahkan Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus yang bahkan mencakup latihan militer gabungan.
Namun, preferensi Trump terhadap negosiasi bilateral daripada perundingan multilateral akan menimbulkan tantangan terhadap potensi respon terkoordinasi ASEAN menghadapi kebijakan tarifnya.
Meskipun begitu, patut pula diingat bahwa lambang ASEAN adalah seikat batang padi, menggambarkan bahwa Asia Tenggara lebih kuat dan kokoh jika diikat bersama-sama daripada bersikap sendiri-sendiri.
Setiap negara ASEAN akan memperoleh keuntungan dengan tampil berkoordinasi menghadapi tarif AS dan memperlihatkan bahwa mereka bersedia saling memperkuat secara kolektif ketika menghadapi perang dagang yang kian meningkat saat ini.
Karena Indonesia sejak dulu dianggap dan memposisikan diri sebagai pemimpin tradisional ASEAN, maka Indonesia seharusnya menjadi pemain penting dalam mendorong terwujudnya respon lebih terkordinasi negara-negara ASEAN menghadapi tarif Trump ini.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rifqy-Tenribali-Eshanasir-8.jpg)