Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ternyata Palsu! ASS Rugikan Siapa Untungkan Siapa

Dari penyelidikan pihak berwajib ditemukan bahwa 'rencana' produksi uang palsu sudah dimulai sejak Juni 2010.

Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM
Asri Tadda 

Pertama, soal waktu produksi. Jika benar adanya bahwa rencana produksi uang palsu oleh kelompok ini telah dimulai sejak 2010 lalu, maka bukan tidak mungkin bahwa sebenarnya uang palsu sudah mereka produksi dan beredar di daerah ini sejak 5-10 tahun lalu.

Selama itu, mungkin saja produksinya hanya dalam jumlah terbatas untuk mencegah terendus oleh pihak berwajib. Saat ada kebutuhan besar dan mendesak akhir-akhir ini, produksi lalu dilakukan dalam jumlah lebih besar.

Kedua, soal material uang palsu. Dengan tampilan yang sulit dibedakan dengan uang asli, termasuk bahan-bahan khusus yang digunakan untuk menyerupai sistem keamanan internal uang kertas asal Bank Indonesia, maka ini termasuk kejahatan yang telah direncanakan dengan rapi dan serius.

Dengan material begitu, tanpa disadari uang palsu dengan sangat mudah beredar luas di masyarakat. Sebuah kejahatan perbankan yang sangat serius.

Ketiga, uang yang diduga palsu berasal dari ATM. Ini adalah fakta yang mencoreng dunia perbankan di tanah air.

Harus ditelusuri secara serius mengapa bisa uang palsu ini bisa lolos dan masuk ke dalam sistem ATM perbankan kita.

Disebutkannya beberapa tersangka uang palsu UIN sebagai karyawan perbankan dan BUMN, bisa menjadi salah satu indikasi ada praktek melibatkan orang dalam perbankan untuk memasukkan uang palsu, atau menggantikannya dengan uang asli milik perbankan. 

Keempat, soal Pilkada. Fenomena uang palsu baru mulai merebak beberapa pekan setelah Pilkada Serentak November 2024 lalu. 

Kendati begitu, tidak menutup kemungkinan ada uang palsu yang turut digunakan dalam proses Pilkada baru-baru ini. Apalagi jika menilik rencana produksi uang palsu sejak 2010 lalu.

Selain itu, kabar terlibatnya sosok Annar Salahuddin Sampetoding (ASS) sebagai pemodal untuk pembelian mesin cetak uang palsu di UIN, menambahkan kisruh relasi uang palsu dan Pilkada.

Betapa tidak. Selain dikenal sebagai politisi yang juga sebelumnya punya keinginan maju Pilgub Sulsel, ASS ternyata tercatat sebagai Dewan Penasehat Tim Pemenangan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut 2, Andi Sudirman Sulaiman - Fatmawati Rusdi (Andalan Hati).

Masyarakat akhirnya tambah was-was. Jangan sampai uang yang mereka dapatkan selama Pilkada lalu, baik sebagai uang operasional, oleh-oleh atau sebagai sedekah bertajuk serangan fajar, ternyata palsu. 

Jadilah Pilkada yang seharusnya jadi momentum bagi rakyat merubah nasib dengan memilih pemimpin terbaik, justru berakhir sebagai momok menyedihkan bagi rakyat yang jadi korban uang palsu.

Fenomena uang palsu sebenarnya hal yang boleh dianggap biasa ditemukan sebelum ini.

Tetapi merebaknya kasus uang palsu UIN kali ini telah membuka lebar-lebar mata publik, menyentak kesadaran berapa massifnya peredaran uang palsu di tengah masyarakat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved