Opini
Dzulfikar Ahmad Tawalla Wamen yang 'Tahu Diri' Kala Pidato dan Menyumbang
Salah satunya adalah Dzulfikar Ahmad Tawalla, sosok muda yang kini menjadi Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
“Sebagai wakil menteri, saya harus tahu diri. Jika menteri bicara 20 menit, maka saya cukup 10 menit,” ujarnya, disambut tawa riuh tamu undangan, termasuk tokoh-tokoh besar seperti Jusuf Kalla, Said Didu, dan Anhar Gonggong.
Keesokan harinya, Dzulfikar hadir dalam pembukaan warung kopi "Phoenampungan" di Gondangdia, Jakarta.
Dengan gaya kasual, ia bercengkerama dengan tamu lain, termasuk Menpora Dito Ariotedjo, politisi Partai Golkar Sarmudji, dan tokoh-tokoh muda lainnya.
Dalam kedua kesempatan tersebut, Dzulfikar kerap mengulangi narasi "tahu diri."
Ia mencerminkan sikap rendah hati, menghormati posisi, dan memahami porsi sebagai wakil.
Saat diminta memberikan kontribusi dana untuk warung kopi, ia kembali melontarkan candaan.
“Karena saya wakil, nilai sumbangannya tidak boleh lebih besar dari menteri. Cukup setengahnya saja,” ujarnya, mengundang tepuk tangan meriah.
Sikapnya yang santai namun penuh hormat menunjukkan kualitas kepemimpinan yang menginspirasi.
Dzulfikar tidak hanya berbicara tentang porsi, tetapi juga mengamalkannya dalam tindakan.
Sebagai anak muda, Dzulfikar menjadi teladan bagi generasi penerus.
Ia tetap sederhana meski kini menjabat sebagai pejabat negara.
Karakter kepemimpinannya berakar pada nilai-nilai Akhlakul Karimah yang menjadi fondasi Muhammadiyah.
Pesannya jelas: meski memegang jabatan tinggi, jangan pernah melupakan akar dan nilai-nilai yang membentuk diri.
Dzulfikar Ahmad Tawalla tetaplah Dzulfikar yang sederhana, rendah hati, dan berjiwa muda.
Sikap dan prinsip ini yang membuatnya layak disebut sebagai "Wamen ½," seorang wakil yang memahami posisi, menjaga integritas, dan membawa inspirasi bagi bangsa.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dzulfikar-Ahmad-Tawalla-1-7122024.jpg)