Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rukman AR Said

Kolom Dosen IAIN: Seribu Ungkapan Satu Perbuatan

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil dalam hidup. Membantu tetangga yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kurang beruntung

|
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Rukman Abdul Rahman Said, Dosen IAIN Palopo 


Oleh: Rukman Abdul Rahman Said
Dosen IAIN Palopo


TRIBUN-TIMUR.COM - Pepatah Bugis mengatakan  “ Sisebbu ada seddi pangkaukeng, pangkaukengmi mappannessa ”. (Seribu kata satu perbuatan, yang jadi tolok ukur adalah perbuatan).

Ungkapan “ Seribu kata satu perbuatan ” mengindikasikan bahwa tindakan lebih berbicara ketimbang kata-kata. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam lautan kata-kata tanpa memikirkan dampaknya. Namun, pada akhirnya, yang menjadi tolok ukur adalah perbuatan. 

Ungkapan ini menantang kita untuk merenungkan sejauh mana kita telah mewujudkan apa yang telah diucapkan dalam tindakan nyata.

Dalam Islam, konsep ini memiliki dasar yang kuat. Allah Swt berfirman dalam al-Qur'an “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)

Ayat ini dengan jelas menekankan pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan.

Allah Swt mengecam mereka yang hanya pandai berbicara tanpa melaksanakan apa yang mereka ucapkan. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah, perbuatan jauh lebih
penting dan berarti ketimbang sekadar kata-kata.

Rasulullah saw juga mencontohkan betapa pentingnya perbuatan dalam ajaran Islam. Beliau tidak hanya mengajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata.

Sebagai contoh, ketika seorang laki-laki datang kepada beliau dan meminta nasihat, Rasulullah saw memberikan nasihat singkat namun penuh makna “Jangan marah,” dan beliau mengulangi itu berberapa kali (HR. al-Bukhari)

Namun, nasihat ini bukan sekadar kata-kata. Rasul sendiri menunjukkan bagaimana mengendalikan amarah dalam berbagai situasi, menjadikan dirinya teladan nyata bagi umatnya.

Dalam riwayat dikatakan bahwa Rasul saw kalau marah tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, akan tetapi biasanya beliau hanya memalingkan wajah, dan puncak kemarahan Nabi dapat terlihat apabila wajahnya telah memerah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa belajar banyak dari teladan Nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah pentingnya berbuat baik dan menunjukkan kasih sayang kepada sesama.

Misalnya, beliau sangat peduli terhadap anak yatim dan selalu membantu mereka. Beliau tidak hanya mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada anak yatim melalui kata-kata, tetapi juga perbuatan nyata.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, at-Thabrani, dan ad-Daruquthni)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved