Ngopi Akademik
Debat PIL Kada
Debat PIL Kada menjadi fenomena tersendiri di masa kampanye ini juga dijadikan ajang untuk memberi dan mendengarkan kata-kata yang pahit (PIL)
Oleh karena itu, perlu adanya program pelatihan dan pengembangan bagi pegawai publik agar mereka dapat memberikan layanan yang lebih profesional, responsif, dan inovatif.
Dalam konteks perlindungan sosial, juga harus lebih fokus pada kelompok rentan seperti warga miskin, penyandang disabilitas, dan lansia.
Pelayanan publik yang inklusif berarti bahwa kelompok-kelompok ini tidak terpinggirkan, tetapi justru mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hal ini memerlukan strategi khusus yang adaptif, di mana pemerintah daerah harus mampu merancang layanan yang tanggap terhadap kondisi sosial ekonomi warganya.
Sementara itu, keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, pengawasan, dan evaluasi pelayanan publik juga penting untuk menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif terhadap kualitas layanan.
Partisipasi masyarakat akan memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan publik, terutama jika ada mekanisme khusus yang memungkinkan warga untuk berperan aktif dalam pengawasan terhadap kinerja pemerintah.
Pemerintah Daerah harus memastikan bahwa langkah-langkah strategis untuk optimalisasi dan inovasi dalam pelayanan publik dapat diwujudkan secara nyata.
Hal ini termasuk dalam upaya memperbaiki efisiensi birokrasi yang selama ini menjadi hambatan dalam layanan administrasi dan perizinan.
Dengan proses yang lebih cepat, sederhana, dan mudah diakses, suatu daerah dapat meningkatkan daya saingnya yang mampu memberikan pelayanan publik terbaik kepada warganya.
Dalam rangka mencapai visi_misi dan program kerja pasangan calon pemimpin di daerah tersebut, diperlukan langkah-langkah inovatif yang konkret dan terukur.
Sehingga berpotensi besar untuk menjadikan daerah tersebut sebagai rolmodel yang inklusif dan berkelanjutan, tetapi hal itu hanya akan terwujud jika pelayanan publiknya mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern.
Catatan dari Debat PIL Kada di putaran pertama ini memang terkesan normatif, bisa dimaklumi jika terkesan “apapun pertanyaannya, program kerja paslon jawabannya”.
Sehingga bagi yang menyimak kadang tidak nyambung antara pertanyaan dengan jawaban yang penting modal senyum.
Semoga di putaran kedua nanti debat yang sesungguhnya sebagai arena pertukaran pendapat mengenai tema yang ditawarkan untuk saling memberi alasan yang argumentatif berusaha mempertahankan pendapat berdasarkan data tanpa mempermalukan pihak lain akan kita temui sebagai bagian dari pendidikan politik bagi semua masyarakat terutama di daerah yang kelak akan dipimpin oleh pasangan calon kepala daerah.
Andai hal ini diabaikan, maka Debat PIL Kada mengingatkan kita “Kelompencapir” (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa) di masa orde baru, yang oleh masyarakat umum di daerah bugis lebih populerkan dengan istilah “paccappu kopi”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rahmat-Muhammad-SosiologKetua-Program-Studi-Doktor-Sosiologi-FISIP-Unhas-5.jpg)