Opini
Bijak Mengartikan Verboden voor Honden en Inlanders dari Prabowo
Kalimat yang disampaikan Prabowo itu dikutip sebagai berikut: “Saudara-saudara sekalian, dengan demikian kita ingin menjadi sahabat semua negara.
Entah dari mana sumber cerita yang selama ini beredar dalam masyarakat.
Lalu bila memang benar pernah ada plakat yang semacam itu, kenapa tidak ada cerita keberadaannya yang dikaitkan dengan dengan de club house de societeit harmonie atau hotel-hotel peninggalan Belanda lainnya.
Atau jangan-jangan ini hanya bentuk propaganda dan sentimen kebencian kepada Belanda.
Walaupun begitu, dari sebuah buku catatan perjalanan tahun 1918, Across the Equator; A Holiday Trip in Java karangan Thomas H. Reid, ditemukan keterangan lain, yaitu keberadaan plakat yang bertuliskan “Verboden Toegang” artinya “Dilarang Masuk” yang terdapat di depan kompleks istana gubernur jendral di Tjipanas, Tjiandjoer.
Menurut Reid, pengumuman seperti itu banyak terdapat di tempat-tempat lain di Pulau Jawa.
Ya, hanya itu saja yang tercatat, “verboden toegang” (dilarang masuk) dan bukan “verboden toegang voor honden en inlander” (dilarang masuk untuk anjing-anjing dan pribumi)
Terlepas ada atau tidak ada bukti tulisan tersebut kita perlu meresponnya dengan bijaksana.
Kita jadikan ucapan Prabowo itu untuk membakar semangat kita menjadikan Indonesia sebagai negara besar yang tidak bisa direndahkan negara lain.
Tetapi disaat yang sama ucapan merendahkan itu tidak bisa dijadikan kesaksian ilmiah dan akademis karena tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak punya bukti yang autentik.
Kalaupun istilah itu benar maka kita berharap Belanda mengakui kesalahannya dan menebusnya dengan hubungan yang baik dengan negara lain terutama denga Indonesia tanpa ada keterisnggungan antar negara demi tatanan global yang humanis dan inklusi
Egaliterisme di Belanda
Belanda yang dulu sangat berbeda dengan Belanda sekarang dalam hal HAM dan isu kemanusiaan lainnya. Seolah ingin menebus kesalahan masa lalunya Belanda sekarang menjdi pioneer dalam melindungi HAM dan egaliterianisme di level internasional.
Di Belanda persamaan hak begitu dijunjung tinggi. Tidak mengenal strata sosial. Orang- orang Belanda menganggap semua yang tinggal di Belanda selevel.
Ledereen die in Nederland woont, is hetzelfde. Tidak ada crazy rich, tidak ada yang merasa lebih tinggi dari strata sosial dan memandang rendah orang lain.
Malahan ketikan ada yang bergaya dengan berlebihan dengan sombongnya dianggap orang gila. Doe maar gewoon. Dan doe je al gek genoeg.
| Memperjuangkan Asesmen Nasional Pendidikan yang Berkelanjutan |
|
|---|
| Indeks Pendidikan dan Jebakan Produktivitas Rendah |
|
|---|
| Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya |
|
|---|
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Riswan-Abu-SultanPemerhati-Indonesia-Belanda.jpg)