Opini
Dari Toleransi hingga Kebijakan Keagamaan yang Bossy dan Eggak Asik
Penolakan ini juga disampaikan oleh DPRD Pare-Pare setelah rapat dengar pendapat bersama masyarakat.
Menurut penulis, ada sebuah standar yang sedang dibangun, standar ini seperti menjadi ukuran seseorang bisa disebut toleran atau tidak, Pancasilais atau tidak.
Tak ada yang masalah urusan salam dan menyalami. Bahkan salam dari Binjai pun memperkaya khazanah persalaman di Indonesia. Namun apa relevansi menciptakan dan menggonta ganti salam?
Hanya memperkeruh air yang jernih saja. Alih-alih membawa kebajikan, malah jatuh ke kawah kontroversi yang berpotensi melahirkan konflik baru.
Memang toleransi sesederhana sarung dan celana panjang Sang Kiai. Tak perlu narasi besar untuk menunjukkan.
Sesederhana memiliki pemikiran untuk menyesuaikan, menempatkan, dan saling menyenyumi perbedaan satu sama lain, yang sebenarnya tidak harus selalu dipaksakan sama atau saling mengikuti satu sama lain.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.