Opini
OPINI: Mengantisipasi Perilaku Hedonisme Akhir Ramadhan
Dimana pasar dan mall menjadi tempat tujuan demi mencari perlengkapan kemeriahan di saat lebaran nantinya.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ansar
Inilah yang terjadi, mukenah-mukenah baru serta baju takwa yang baru hanya penghias lemari.
Tuntunan agama islam mengarahkan kemudahan bukan kesukaran.
Adanya praktek hedonisme menuntut pelakunya untuk berpenampilan yang berlebihan dan membawa pada kesusahan.
Bagaimana tidak, ada kalanya beberapa orang rela ngutang demi menutupi kekurangan finansial di hari kemeriahan lebaran (idul fitri).
Bahkan ada yang tidak ingin menghadiri shalat id disebabkan karena masih belum punya pakaian baru.
Lantas praktek demikian kapan berakhirnya?.
Jika hal ini terus berkelanjutan maka tentu akan tetap terjadi kesenjangan sosial dan munculnya fenomena peringkat
sosial.
Dari sini, prinsip kesederhanaan telah diajarkan dari praktek berbuka puasa (iftar).
Di saat kita berhadapan dengan makanan dan minuman yang lezat apapun, tentu secara sadar akan memakan yang secukupnya saja.
Inilah pembelajaran berharga di bulan Ramadhan yang harus juga dipraktekkan menjelang lebaran.
Dalam ajaran islam sebagaimana Nabi Muhammad SAW menginstruksikan kepada umatnya agar tidak terhipnotis akan indahnya dunia , “menjadi kaya bukan berarti memiliki harta yang banyak. Orang yang benar-benar kaya adalah orang yang merasa cukup”, (At-Tirmidzi).
Instruksi ini mendidik jiwa atau mental agar berkiblat kepada yang secukupnya saja, sebagaimana contoh di saat berbuka puasa.
Makan tidak dan minum sesuai kadar perut.
Meminimalisir Hedonisme
Menahan lapar dan dahaga sejak adzan subuh hingga adzan maghrib semestinya mampu menumbuhkan empati terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung seperti kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Jusrihamulyono-AHM-Trainer-P2KK-PUSDIKLAT-Pengembangan-SDM-UMM.jpg)