Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Faisal, Raja Saudi yang Menolak Tersenyum Sebelum Palestina Merdeka

Sebelum dinobatkan menjadi raja pada 2 November 1964, ia diserahi jabatan strategis: Gubernur Hijaz, Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sudirman
Ist
Ismail Amin, MA, Mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa Iran 

Diantara tokoh berpengaruh Wahabi yang keras menentang kebijakan modernisasi Saudi adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz, saat itu rektor perguruan tinggi Islam di Madinah.

Diantaranya, dia menentang penyiaran televisi karena bagi Wahabi haram hukumnya menonton televisi.

Raja Faisal tidak menerima kritikannya dan mencopot posisinya. Raja Faisal bahkan marah besar dan menyuruh penghancuran buku-buku bin Baz, saat ulama Wahabi itu menulis buku mataharilah yang mengelilingi bumi, yang membuat Saudi diejek dunia internasional sebagai contoh keprimitifan Saudi.

Kemudian hari, pasca Raja Faisal, Syaikh bin Baz malah diangkat menjadi mufti Saudi dan diskriminasi kembali menggejala.

Sayang, hidup raja yang dicintai rakyatnya ini berakhir tragis. 25 Maret 1975 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1395 H, yang seharusnya hari gembira karena memperingati Maulid Nabi, Raja Faisal menyambut kedatangan delegasi dari Kuwait dalam acara resmi kenegaraan di istananya.

Disaat sibuk menyambut tamu, Faisal bin Musaid keponakannya yang berusia 26 tahun mengeluarkan revolver dari jubahnya dan menembaknya dari jarak dekat.

Raja Faisal tersungkur dengan luka tembak di kepala. Dengan segera dia dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong.

Setelah melalui investigasi selama 16 minggu, otoritas Saudi menjatuhkan hukuman mati kepada Faisal bin Musaid.

Dia yang baru pulang dari AS itu dipenggal kepalanya dihadapan publik karena terbukti bersalah atas pembunuhan berencana.

Meski otoritas Saudi menyebut tidak menemukan bukti adanya konspirasi Intelejen CIA dan Mossad dalam pembunuhan tersebut.

Namun para pengamat yakin, AS terlibat sebab sangat diuntungkan dengan mangkatnya raja yang keras kepala menentang arogansi AS tersebut.

Israel menyambut kematian Raja Faisal dengan gembira. Media Israel menyebut “Raja Arab yang membenci Yahudi telah diturunkan dari panggung.”

Di seluruh Timur Tengah, stasiun radio menghentikan program reguler mereka untuk memutar ulang suara emosional penyiar Riyadh yang memberitakan kematian raja.

Harian Mesir menulis, “Bangsa Arab tidak pernah bisa melupakan sikap heroiknya selama perang Oktober atau bantuan moral dan material yang dia berikan tanpa batas kepada negara-negara garis depan.” Hari itu, tidak pernah bangsa Arab modern seberduka itu.

Pasca-kematian Raja Faisal, perekonomian AS kembali pulih, yang artinya eksistensi Israel kembali menguat.

Dan sampai sekarang tidak ada lagi muncul dari raja Saudi yang memiliki sikap anti Zionis dan menolak tunduk pada AS.

Saudi di bawah Raja Salman bahkan sedang berproses untuk normalisasi dengan Israel. Hanya karena saat ini Gaza memanas, sehingga proses normalisasi dibekukan sementara.

Andaikan Raja Saudi saat ini masih Raja Faisal, apa iya Israel sepongah itu menyerang Palestina? satu-satunya negara di dunia yang tidak memiliki sistem pertahanan sama sekali.

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved