Opini
Faisal, Raja Saudi yang Menolak Tersenyum Sebelum Palestina Merdeka
Sebelum dinobatkan menjadi raja pada 2 November 1964, ia diserahi jabatan strategis: Gubernur Hijaz, Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri.
Sayang koalisi Arab itu kalah, karena Mesir menarik diri. Gamal Abdul Naser menarik pasukannya karena khawatir dengan ancaman AS yang hendak menyerang Mesir.
Tidak menerima kekalahan itu, Raja Faisal marah besar.
Ia berbalik menantang AS. Dia memutuskan hubungan diplomatik dan menyerukan perang ekonomi dengan AS dan negara-negara Barat yang mendukung Israel.
Caranya, dia mengembargo ekspor minyak Arab Saudi. Dampak dari embargo itu tak main-main.
Sektor industri dan transportasi AS lumpuh dan perekonomiannya kacau. BBC pernah melakukan wawancara dengan Raja Faisal.
Reporter bertanya kepadanya, “Peristiwa apa yang Paduka ingin lihat terjadi sekarang di Timur Tengah.” Raja Faisal menjawab, “Hal pertama adalah kematian Israel.”
Jawaban yang menggemparkan dunia. Dia menunjukkan begitu konsen terhadap kebebasan rakyat Palestina khususnya mengembalikan kehormatan Al-Quds. Konon, dia baru akan tersenyum, jika bangsa Palestina telah merdeka.
Melalui Henry Kissinger (saat itu Menlu AS), AS mengancam Raja Faisal jika tidak mencabut boikot, Saudi akan diserang AS dan diratakan dengan tanah.
Raja Faisal menantang jika AS menyerang, dia akan membakar kilang-kilang minyak disemua wilayah Saudi.
Raja Faisal berkata, “Anda adalah orang-orang yang tidak bisa hidup tanpa minyak.
Anda tahu, kami berasal dari gurun, dan nenek moyang kami hidup dengan kurma dan susu dan kami dapat dengan mudah kembali dan hidup seperti itu lagi.”
Mereformasi Arab Saudi
Di dalam negeri, Raja Faisal dijuluki sebagai sang reformis dan pernah mendapat gelar man of the year yang diberikan oleh majalah TIME.
Dia membawa perubahan besar dalam kerajaan Arab Saudi.
Dia tidak banyak berbicara, tapi cakap dalam memimpin. Dia menghapus perbudakan dan memodernisasi institusi pendidikan di Arab Saudi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Ismail-Amin-MA-Mahasiswa-S3-Universitas-Internasional-Almustafa-Iran-5.jpg)